News Dibalik Diplomasi Nasi Goreng SBY-Prabowo

Dibalik Diplomasi Nasi Goreng SBY-Prabowo

sisiusaha (28/7)

creative people.. Nasi goreng, menu yang sangat populer di masyarakat ini tidak hanya kelezatan namun juga sarat makna dan filososi yang terkandung di dalamnya, seperti tulisan M Abduh Baraba tentang Teori Nasi Goreng yang dikatakan bahwa kita tidak mungkin memuaskan semua pihak pada saat yang bersamaan. Seperti juga nasi goreng, walaupun memiliki satu nama namun masing-masing orang akan berbeda standar seleranya. Ada yang suka pedas, sedang, seafood, kambing, ayam bahkan juga pete dan lainnya.

Nasi goreng juga bukan sekedar jenis makanan, namun bisa menjadi media berdiplomasi atau lobi politik. Hidangan tersebut disajikan saat pertemuan ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di Cikeas, Jabar, Kamis (27/7/2017) malam.

Dua unit gerobak nasi goreng 'Jatim Ngawi' disiapkan di halaman rumah SBY. Hidangan tersebut sukses menghangatkan suasana pertemuan kedua pimpinan partai itu sebelum melangsungkan pertemuan tertutup.

SBY memilih nasi goreng dengan rasa pedas, sedangkan Prabowo sedikit rasa pedas atau sedang. Seusai pertemuan tertutup, Prabowo memuji nasi goreng yang dihidangkan. Agaknya tak cuma rasa nasi goreng saja, tapi ada pula kritikan 'pedas' yang terlontar usai pertemuan mereka.

"Power must not go unchecked. Artinya kami harus memastikan bahwa penggunaan kekuasaan oleh para pemegang kekuasaan tidak melampaui batas, sehingga tidak masuk apa yang disebut abuse of power. Banyak pelajaran di negara ini, manakala penggunaan kekuasaan melampaui batasnya masuk wilayah abuse of power, maka rakyat menggunakan koreksinya sebagai bentuk koreksi kepada negara," kata SBY.

SBY yang mengaku 'berpuasa' politik selama 6 bulan terakhir itu juga berkata dirinya tetap memantau situasi di Indonesia. Dia berpesan agar pemangku kebijakan dapat menggunakan kekuasaan dengan amanah.

Setelah itu giliran Prabowo yang menyampaikan pandangannya. Prabowo menyampaikan soal presidential threshold 20% yang menurutnya lelucon politik. "Presidential threshold 20 persen lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia, saya tak mau terlibat," kata Prabowo.

Tapi selain kritikan yang cukup pedas itu, Prabowo juga sempat berkelakar. Ia mengaku bahwa nasi goreng adalah makanan kesukaannya yang diungkap oleh SBY lewat kerja intelijen. "Intelijen Pak SBY masih kuat, bisa tahu kelemahan Pak Prabowo di nasi goreng. Asal dikasih nasi goreng pasti setuju saja," ungkap Prabowo dengan canda.

Berkat nasi goreng itulah SBY dan Prabowo sepakat menjalin kerja sama. Mereka sepakat bekerja sama tanpa harus membentuk koalisi. "Meskipun tidak dalam bentuk koalisi karena kita kenal Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Koalisi Merah Putih (KMP) pun sudah mengalami pergeseran dan perubahan fundamental. Karena itu kami memilih tidak perlu membentuk koalisi, yang penting kita meningkatkan komunikasi dan kerja sama," kata SBY.

Pertemuan itu adalah sinyal yang sangat jelas Prabowo akan jadi lawan Jokowi dan berdiri di seberang Jokowi di pilpres mendatang, apakah Prabowo akan maju sendiri atau akan menjadi King Maker bersama-sama SBY untuk mengusung Capresnya.

Terbukti juga bahwa dengan tegas Prabowo menolak ambang batas pengajuan calon presiden sebesar 20-25 persen di UU Pemilu. Prabowo mengatakan akan dan sudah ada pihak yang menggugat UU tersebut. "Penggugat itu tak hanya satu tapi jumlahnya cukup banyak, saya kira ada kelompok-kelompok," sebutnya.

"Presidential threshold 20 persen lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia, saya tak mau terlibat," kata Prabowo. Itulah yang menjadi alasan mereka tidak ikut bertanggung jawab dalam pengesahan RUU Pemilu itu. Pihaknya ditegaskan Prabowo tidak mau ditertawakan oleh sejarah. Dia menambahkan, Gerindra tidak mau ikut sesuatu yang melawan akal sehat dan logika. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga