Opini Kasus Beras Maknyuss, Memakmurkan Petani VS Mafia Beras

Kasus Beras Maknyuss, Memakmurkan Petani VS Mafia Beras

sisiusaha (23/7)

creative people.. Dunia usaha kadang bisa menjadi kejam, profit oriented sebagai dasar membangun usaha adalah sah, namun ketika masuk dalam sebuah persaingan seharusnya dengan cara yang sehat. Dalam kasus beras maknyuss pengamat menenggarai adanya persaingan antara keinginan memakmurkan petani vs mafia beras.

Publik di kagetkan dangan penggerebekan dan penyegelan gudang pabrik beras merek "Maknyuss dan Ayam Jago" milik PT Indo Beras Unggul (PT IBU) oleh Polri bersama dengan Kementan di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (20/7/2017).

"Berdasarkan hasil penyidikan diduga melakukan pengoplosan beras medium yang dijual sebagai beras premium serta diperoleh fakta bahwa perusahaan ini membeli gabah di tingkat petani dengan harga Rp4.900," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya di Jakarta, Jumat (21/7/2017). Sementara Pemerintah sudah menetapkan harga gabah Rp3.700 per kilogram, tetapi mereka justru beli dengan harga yang lebih tinggi.

PT IBU dianggap menetapkan harga pembelian gabah di tingkat petani yang jauh di atas harga pemerintah sehingga dapat berakibat pelaku usaha lain tidak bisa bersaing. Konsekuensinya Harga penjualan beras produk PT IBU di tingkat konsumen juga jauh di atas harga yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar Rp9.500 per kg. Para pelaku usaha pangan harus mengikuti harga acuan bahan pangan yang diatur pemerintah yakni Permendag No 47 tahun 2017 yang ditetapkan tanggal 18 Juli 2017 yang merupakan Revisi Permendag 27 tahun 2017. Pemerintah sudah menetapkan harga gabah Rp3.700 per kilogram, tetapi mereka beli harga lebih tinggi.

Namun PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF), selaku induk usaha dari PT Indo Beras Utama (IBU) membantah seluruh tuduhan itu. Anton Apriyantono, Komisaris Utama dan Komisaris Independen perseroan menyangkal semua tuduhan itu. “Tuduhan itu tak benar semua, apa yang dimaksud mengoplos? Kalau beras yang maksud itu beras premium, beras bisa dari sana sini, yang penting memenuhi kriteria yang ditetapkan,” kata Anton.

Ia juga menegaskan pembelian harga gabah yang tinggi dari petani sudah seharusnya dilakukan. Ia tak terima bila masalah ini dianggap jadi sebuah persoalan. “Beli gabah dengan harga tinggi itu memang yang diharapkan petani, kalau begitu namanya dzolim,” lanjut Anton. Ia mengatakan PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk akan balik menuntut kepada pihak-pihak yang melakukan tudingan. “Apa maksudnya membuat kebohongan publik, kita akan tuntut balik,” tegas Anton.

loading...

Lebih jauh Anton melakukan klarifikasi sebagai berikut:

1. Itu fitnah besar, saya catat apa yang sudah saya tulis.
2. Varietas IR 64 itu merupakan varietas lama yang sudah digantikan dengan yang lebih baru yaitu Ciherang kemudian diganti lagi dengan Inpari. Jadi dilapangan sudah tidak banyak lagi jenis IR 64, selain itu tidak ada beras IR 64 yang bersubsidi. Ini adalah kebohongan publik yang luar biasa. Yang ada adalah beras Raskin dan subsidi bukan pada berasnya tapi pada pembelinya, karena beras Raskin tidak dijual bebas akan tetapi hanya untuk konsumen miskin.
3. Di dunia perdagangan beras itu yang dikenal adalah beras jenis medium dan premium, SNI untuk kualitas beras juga ada, dan yang diproduksi Tiga Pilar Sejahtera sudah sesuai SNI untuk kualitas atas.
4. Kalau dibilang negara dirugikan sampai ratusan trilyun, itu ruginya dimana? Lha wong omset TPS saja hanya 4 trilyun pertahun. Lagi-lagi ini merupakan kebuhungan publik oleh Kapolri.
5. Mengenai tudingan menjual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) ini adalah sangat tidak bijaksana, karena pertama SK Mendag mengenai HET itu baru ditandatangani dan berlaku 18 Juli 2017, sementara itu tanggal 20 Juli 2017 sudah diterapkan hanya kepada PT IBU saja (dengan digerebeg dan disegel), tidak kepada yang lain dan tidak diberikan waktu untuk penyesuaian. Kedua, HET beras Rp.9000 itu terlalu rendah, karena harga rata-rata beras sudah diatas 10 ribu. Perlu dilakukan evaluasi, selain itu juga harus dibedakan antara beras kualitas medium dengan premium.
6. Mengenai kandungan gizi, ada ketidakfahaman membedakan antara kandungan gizi dengan angka kecukupan gizi.
7. Satu lagi, berita bahwa penyimpanan 3 juta ton beras atau membeli 3 juta ton beras itu adalah ngawur, karena kapasitas terpasang seluruh pabrik TPS hanya 800 ribu ton.

Beras merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat, tak pelak banyak pengusaha besar yang ikut bermain dalam bisnis ini. Kasus beras maknyuss menjadi sebuah cermin, dimana saat harga jual petani yang sebenarnya bisa lebih tinggi pada satu sisi, namun disisi lain akan mengurangi margin penjualan bagi pengusaha besar. PT IBU dianggap sebagai biang kerok terjadinya pengurangan margin keuntungan bagi pengusaha besar beras lainnya, karena membeli gabah langsung dari petani dengan harga yang lebih tinggi. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga