News Kurang modal, Sukamto kesulitan kembangkan usaha budidaya jamur tiram

Kurang modal, Sukamto kesulitan kembangkan usaha budidaya jamur tiram

sisiusha (31/10)

Budidaya jamur tiram memang bisa dibilang gampang-gampang susah. Jika tidak memerhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, bisa jadi Budidaya jamur tiram kurang optimal. Seperti yang dilakukan oleh warga Munggur, Mojogedang, Karanganyar, Sukamto (38).

Kepada JITUNEWS.COM, Sukamto mengaku sudah memulai Budidaya jamur tiram sejak tahun 1997. Ia menggunakan lahan seluas 10×10 m2 di sekitar tempat tinggalnya. Sejak memulai usaha Budidaya jamur ini, Sukamto pun kerap mengalami pasang surut usaha. Maklum, Sukamto merupakan seorang pemula dalam hal Budidaya jamur tiram ini. Meski demikian, ia tak pernah putus asa, hingga akhirnya bisa memBudidayakan sendiri dan bertahan sampai sekarang.

“Modalnya sangat sedikit mas, namanya juga orang desa. Semua serba terbatas dan seadanya,” terang Sukamto kepada JITUNEWS.COM, Senin (26/10).

Dia mengatakan, faktor utama yang perlu diperhatikan dalam Budidaya jamur tiram adalah lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Pasalnya, jamur tiram ini tidak bisa tumbuh dalam udara panas. Sehingga jamur ini harus ditempatkan di ruangan yang sejuk dengan kelembaban udara teratur.

Disamping itu, teknik Budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pascapanen sangat perlu diperhatikan. Sebelum melakukan penanaman semua peralatan harus disediakan, diantaranya rumah kumbung baglog, rak baglog, bibit jamur tiram, dan peralatan Budidaya.

“Media yang saya gunakan untuk menanam jamur ini adalah serbuk gergaji. Kemudian serbuk itu dikompos dengan cara menutupnya menggunakan plastik. Plastik yang saya gunakan ini ukuran 18×5 sentimeter,” jelasnya.

Dia mengaku, jamur tiram yang diBudidayakan itu baru bisa dipanen setelah empat bulan sejak dimulainya penanaman. Sekali panen bisa mencapai 10-20 kilogram. Bibit jamur ini ia datangkan dari Ciancur, Jawa Barat. Selama ini hasil panennya diambil pedagang di seputaran Karanganyar dan ada yang dimanfaatkan sendiri untuk pembuatan kripik jamur. Jamur tiram tersebut ia jual dengan harga Rp10.000 perkilogram.

“Untuk memenuhi permintaan saya sering kurang-kurang. Sebenarnya butuh modal untuk mengembangkan lebih banyak, namun masih sulit mencari permodalan,” ungkap kelompok klaster binaan kantor Bank Indonesia Solo, ini.

Lebih jauh, pihaknya berharap ada perhatian dari pemerintah terkait modal. Karena modal ini menjadi kunci utama untuk mengembangkan usaha.

“Khususnya bagi kalangan usaha kecil menengah (UKM) seperti saya ini,” tutur Sukamto penuh harap. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga