News GO-JEK Ditolak Pemerintah Solo, GrabTaxi Diizinkan Beroperasi

GO-JEK Ditolak Pemerintah Solo, GrabTaxi Diizinkan Beroperasi

sisiusaha (03/4)

creative people.. Pro kontra sistem transportasi umum konvensional vs online terus terjadi, banyak kota-kota besar di Indonesia masih belum menemukan kata sepakat terhadap operasional angkutan umum online. Setidaknya yang terjadi di kota Solo, Jawa tengah, Gojek ditolak oleh pemerintah Solo, namun Grabtaxi justru mendapat izin operasi.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perhubungan Solo, Hari Prihatno beberapa waktu yang lalu seperti dikutip TribunSolo, "Dari awal, Bapak Walikota FX Hadi Rudyatmo menolak keberadaan GO-JEK," tuturnya.

Saat ini, memang baru layanan ojek online milik GO-JEK saja yang telah hadir di kota tersebut. Alasan penolakan ini menurut Hari adalah karena pemerintah kota Solo saat ini tengah mengembangkan transportasi publik. Dan keberadaan GO-JEK dikhawatirkan akan merusak sistem transportasi yang ada.

Pada tanggal 15 Maret 2017 yang lalu, para pengemudi taksi di Solo bahkan telah melakukan aksi demonstrasi untuk menolak kehadiran GO-JEK. Aksi tersebut pun berakhir dengan bentrok fisik.

Namun uniknya, meski anti dengan GO-JEK, pemerintah kota Solo justru terbuka dengan konsep pemesanan taksi secara online. Selama ini masyarakat Solo telah bisa menggunakan aplikasi mobile yang bernama GLine untuk memesan armada taksi Gelora. Dan dalam waktu dekat, mereka pun akan bisa menikmati kemudahan serupa lewat layanan GrabTaxi milik Grab.

Artikel Terkait: 

GoJek: Memanage bisnis atau bisnis memanage?

Melawan Perubahan

Pada tanggal 17 Maret 2017 yang lalu, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Solo Taufiq Muhammad menyatakan kalau Grab telah mengundang enam perusahaan taksi di kota tersebut untuk bekerja sama. Grab bahkan telah melakukan uji coba dengan tujuh puluh armada milik perusahaan taksi Gelora.

Menurut perwakilan perusahaan taksi Gelora, lebih dari sepuluh persen pesanan yang mereka terima datang dari aplikasi GLine. Kehadiran aplikasi Grab yang telah sering digunakan oleh para pendatang diharapkan bisa meningkatkan pemesanan online yang mereka terima.

Langkah Grab menggandeng perusahaan taksi lokal ini memang bisa menjadi jalan tengah dari konflik yang terjadi antara transportasi online dengan transportasi konvensional.

Meski begitu, Grab sendiri tetap memperjuangkan nasib layanan transportasi berbasis mobil pelat hitam mereka, yaitu GrabCar. Mereka bahkan telah menjalin kesepakatan dengan Uber dan GO-JEK, yang merupakan pesaing mereka, demi menentang rencana perubahan aturan terkait transportasi online.

Baik Uber maupun GO-JEK sebenarnya juga telah bekerja sama dengan perusahaan taksi, yaitu Express dan Blue Bird. Namun dalam kerja sama tersebut, penentuan tarif tetap ditentukan oleh kedua aplikasi. Hal ini berbeda dengan layanan GrabTaxi yang tarifnya ditentukan oleh argo di armada taksi. (MAB/RED)

Rekomendasi

Baca Juga