News Sri Mulyani: Waspadai Berulangnya Krisis Utang Yunani

Sri Mulyani: Waspadai Berulangnya Krisis Utang Yunani

sisiusaha (20/2)

creative people.. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memantau krisis utang Yunani yang kembali terjadi tahun ini. Hal itu kembali memunculkan wacana keluarnya negeri para dewa itu dari dari Uni Eropa (Grexit).

"Dalam tiga bulan ke depan, mungkin tidak akan mengagetkan kalau kita akan melihat perdebatan tentang kondisi perekonomian Yunani yang akan mengambil alih seluruh perhatian dunia," tutur Sri Mulyani saat menghadiri acara Seminar "Problem Defisit Anggaran dan Strategi Optimalisasi Penerimaan Negara 2017" di Gedung DPR, Senin (20/2).

Sri Mulyani mengungkapkan, saat ini rasio utang Yunani mencapai hampir 200 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Sementara, defisit fiskal Yunani ada di kisaran 4,2 persen terhadap PDB.

"Yunanti tidak akan tetap berada di Eropa dengan defisit lebih dari 3 persen dan terus menerus berada di posisi yang tidak bisa mengurangi exposure utang sehingga pada suatu saat harus dilakukan restrukturisasi utang," ujarnya.

Di sisi lain, negara-negara di Uni Eropa [EU] yang menjadi penentu dalam menyelamatkan perekonomian Yunani bakal menggelar pemilihan umum tahun ini. Beberapa di antaranya yaitu Jerman, Belanda, dan Perancis. Hal itu membuat upaya penyelamatan ekonomi Yunani tahun ini menjadi semakin pelik.

"Tiga-tiganya [Jerman, Belanda, Perancis] dalam kondisi pemilihan umum sehingga tidak dalam kondisi yang cukup bebas untuk bisa menyampaikan karena biasanya dalam situasi pemilihan umum banyak sentimen-sentiman yang mengeras," ujarnya.

Sebagai pengingat, pada tahun 2015, utang Yunani mencapai 323 miliar euro di mana 66 persennya merupakan dana talangan (bail-out) dari berbagai negara anggota EU.

Melihat hal itu, ekonomi di Benua Biru tahun ini masih diliputi ketidakpastian yang akan mempengaruhi kondisi perekonomian global.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Indonesia akan melakukan segala upaya untuk memperkuat perekonomian domestik. Dengan demikian, Indonesia bisa lebih tahan dan mampu meredam dampak negatif dari ketidakpastian ekonomi dunia.

Dalam kesempatan yang sama Sri Mulyani juga mengungkapkan kondisi utang Indonesia masih sehat jika dilihat dari rasio utang terhadap PDB.

Tahun ini, rasio utang terhadap PDB Indonesia ada di kisaran 28 persen dengan target defisit fiskal sebesar 2,41 persen terhadap PDB. Komposisi itu diyakini bisa menunjang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen.

Sebagai pembanding, rasio utang sesama negara berkembang, India terhadap PDB mencapai 7,2 persen untuk menunjang pertumbuhan ekonomindi kisaran 6,8 hingga 7 persen. Sementara Jepang, rasio utang terhadap PDB mencapai hampir mencapai 250 persen untuk menunjang pertumbuhan ekonomi kurang dari 2 persen. (RED)

 

Baca Juga:
Sri Mulyani: 2017 Perdagangan International Lemah, Jangan Andalkan Ekspor
Negara Defisit 2,41 persen, 2017 Pemerintah Akan Tambah Hutang Rp.384,7 Triliun

Rekomendasi

Baca Juga