Opini Kaya Tidak Selalu Berupa Materi, Tapi Juga Hati, Pengalaman Dan Pengetahuan

Kaya Tidak Selalu Berupa Materi, Tapi Juga Hati, Pengalaman Dan Pengetahuan

sisiusaha (10/1)

creative people.. Kesalahan terbesar adalah ketika mengukur kekayaan seseorang berdasar materi. Kaya tidak selalu berupa materi, tapi memiliki Hati besar, pengalaman dan pengetahuan yang luas juga merupakan kekayaan. Bahkan kekayaan non materi inilah yang mampu menjadikan bijak serta menyelamatkan kehidupan pemiliknya.

Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup." (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Dari sini seseorang bisa merenungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jaminan serta jalan untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Banyak orang kaya selalu merasa kurang puas, jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan sejatinya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Pengalaman adalah peristiwa yang benar-benar pernah dialami, semakin banyak pengalaman artinya juga semakin banyak memiliki kekayaan. Seorang yang kaya pengalaman umumnya semakin memahami persoalan dalam hidup serta memiliki jalan keluar secara bijak dalam berbagai urusan yang dijalani dalam hidupnya. Pengalaman merupakan guru yang terbaik dan juga tidak akan menjerumuskan perilaku seseorang.

Ilmu pengetahuan memang sangat penting, bahkan Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu "Allah mengangkat orang-orang beriman di antara kamu dan juga orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat." ( al-Mujadalah : 11 ). "Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).

Sangat dianjurkan untuk memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Namun, ilmu pengetahuan yang digunakan untuk diri sendiri tidaklah cukup, tapi harus mengamalkan ilmu tersebut demi kepentingan orang banyak. Tidak ada batasan waktu untuk menuntut ilmu, karena itu manfaatkan waktu untuk bisa mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang tinggi akan membuat hidupnya lebih berguna.

"Kehormatan manusia adalah pengetahuannya. Orang-orang bijak adalah suluh yang menerangi jalan setapak kebenaran. Di dalam pengetahuan terletak kesempatan manusia untuk keabadian. Sementara manusia bisa mati, kebijakan hidup abadi." (Khalifah Ali bin Abu Thalib). "Belajar tentang pikiran dan ilmu pengetahuan, tanpa belajar untuk memperkaya hati sama dengan tak belajar apa-apa." (Aristoteles).

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa sebuah kekayaan yang hakiki justru bukan terletak di materi, namun ada di hati, pengalaman dan pengetahuan. Semakin kaya hati, pengalaman serta pengetahuan seseorang, semakin memiliki arti dalam hidupnya, karena hal ini tidak akan pernah habis, sementara kekayaan harta bisa saja habis. (M Abduh Baraba)

 

Baca Juga:
Persepsi dan Imajinasi
Bodohnya Kepintaran..
Dollar dan Tidur Nyenyak Pedagang Gorengan

Rekomendasi

Baca Juga