News Industri Kecil Menengah (IKM) Sepatu Lokal Keluhkan Serbuan Produk China

Industri Kecil Menengah (IKM) Sepatu Lokal Keluhkan Serbuan Produk China

sisiusaha (05/1)

creative people.. Pelaku Industri kecil Menengah (IKM) sepatu lokal di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengeluh serbuan produk sejenis dari China semakin menggerus pasar mereka. Saat pemerintah menyuarakan pentingnya pertumbuhan IKM khususnya sektor ekonomi kreatif, di saat yang sama serbuan produk asing juga semakin masif membanjiri pasar lokal.

Kepala Koperasi Sandal Sepatu Bogor (Kosebo), Mamun, mengatakan, IKM di wilayah Desa Mekar Jaya, Kecamatan Ciomas, Bogor, telah ada sejak tahun 1969 yang hingga kini usaha tersebut menjadi turun-menurun. Namun, seiring perkembangan zaman dan persaingan pada era globalisasi, IKM di kawasan tersebut mengalami pasang surut pesanan sepatu dari pelanggan.

Dia mengeluhkan, saat ini kondisi pasar sepatu lokal kurang memihak kepada pelaku IKM Ciomas. Sebab, salah satu lapak atau pusat perdagangan sepatu di Bogor, yaitu Pasar Anyar, tidak lagi menguntungkan bagi kalangan IKM alas kaki Ciomas. Dia menegaskan, hal ini terjadi karena produk lokal kalah bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasaran.

"Di sini yang (pusat) terbesar di Indonesia cuma di Pasar Anyar. Sepatu (dari) China juga dijual di Pasar Anyar, sekarang lebih dari separuhnya. Gara-gara itu (pengusaha) banyak yang mati suri," kata Mamun saat kunjungan kerja Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ke IKM Ciomas, Bogor, Selasa (3/1/2017).

Dia mengakui, secara kualitas memang sepatu impor lebih memiliki kualitas dan harga yang murah jika dibandingkan produk lokal. "Kualitas (sepatu China) lebih bagus dan lebih murah. Mereka kerja gunakan mesin, kalau kami kan handmade," ujarnya. Mamun menambahkan, selain persoalan daya saing produk IKM, yang menjadi persoalan pengembangan IKM di Ciomas adalah akses permodalan dan juga akses pasar terhadap produk.

"Jadi, yang dibutuhkan itu pemasaran, modal pun kalau enggak ada pesan ya percuma, mau dikasih modal besar juga percuma, hanya akan memperluas kemiskinan," kata dia. "Sebab, bunga bank setiap bulan jalan terus. Kalau kita enggak bisa mengelola, buat apa, ada modal, tetapi enggak ada orderan (pesanan). Jadi, yang diinginkan itu pesanan yang pasti, baru ditunjang dengan modal," lanjutnya.

Selain itu, dia berharap, ke depan pemerintah sebagai pemangku kepentingan agar membantu para pelaku IKM dapat mengembangkan bisnisnya, salah satunya dengan kebijakan yang memberikan akses pasar dan peningkatan pesanan.

"Yang diharapkan itu peraturan daerah (perda) dikeluarkan, PNS, pelajar di sini pakai produk Ciomas, sudah dengan itu bisa hidup semua," kata dia. "Jadi, bukan cuma tempat dan modal saja karena tempat sekarang tidak menjamin dapat order. Makanya, harus ada pesanan. Insya Allah kami bisa bikin dengan kualitas dan garansi," ungkapnya.

Berdasarkan data Kemenperin pada tahun 2012, impor produk alas kaki 387 juta dollar AS. Angka tersebut naik 8,5 persen dari tahun sebelumnya sebesar 357 juta dollar AS. (HAN/RED)

sumber: Kompas

 

Artikel terkait:
Indra Blablabla Art & Custom Clothing..
Desa, UKMK dan serbuan produk asing
Pemerintah Wajib Bantu UMKM Ciptakan Pasar

Rekomendasi

Baca Juga