Opini Koperasi Syariah 212, Jangan Sebatas Simbol

Koperasi Syariah 212, Jangan Sebatas Simbol

sisiusaha (19/12)

creative people.. Aksi super damai 212 pada 2 desember 2016 lalu rupanya mampu memberikan energi positif tentang persatuan dan kebangkitan ekonomi umat Islam di Indoneisa. Hal ini dilanjuti dengan terbentuknya koperasi syariah 212, namun besar harapan agar dapat berjalan, berkembang untuk kebangkitan perekonomian umat secara nyata, jangan hanya menjadi simbol.

Hampir 2.000-an ummat Islam yang menghadiri Musyawarah Pembentukan Koperasi Syariah 2012 segera mengucapkan syukur begitu tim formatur yang berjumlah 50 orang secara aklamasi telah mengambil keputusan terbentuknya Koperasi Syariah 212. Spirit 212 pada diri masing-masing jemaah memang sangat terasa saat menghadiri acara musyawarah pembentukkan koperasi syariah ini. Tampaknya kesadaran mereka untuk menjadi bagian dari kebangkitan ummat Islam di tanah air sudah terpatri kuat dibenak mereka.

Penggagas Koperasi Syariah 212 – Eka Gumilar yang didaulat menjadi pembicara dalam acara musyawarah koperasi ini mengungkapkan, bahwa ajang 212 kemarin adalah momentum yang tepat bagi ummat Muslim di Indonesia untuk mulai bangkit secara ekonomi. "Saatnya mulai hari ini kita bangkitkan bersama-sama ekonomi ummat dengan cara kita besarkan koperasi syariah ini. Lepaskan kepentingan pribadi, lepaskan kepentingan golongan. Mari kita sama-sama perjuangkan kepentingan ummat dengan koperasi syariah 212 ini," ujar Eka Gumilar dengan bersemangat yang langsung disambut pekikan takbir oleh sebagian jemaah yang hadir.

Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) H. Mohamad Sukri yang dipercaya untuk membimbing proses pendirian koperasi syariah 212 ini mengungkapkan, bahwa koperasi syariah 212 ini akan beroperasi dengan prinsip syariah dan menggunakan akad-akad syariah yang berlaku. Menurut Sukri, koperasi syariah 212 ini nantinya juga akan banyak mengembangkan usaha-usaha atau bisnis yang berbasis Islami, seperti mini market syariah, travel syariah, belanja on line syariah, dan masih banyak lagi.

Sukri merasa yakin Koperasi Syariah 212 ini akan bisa menjadi maju, seperti koperasi-koperasi di negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Swedia, Norwegia. Keyakinan Sukri bukannya tanpa alasan, karena dengan pengelolaan yang Islami berbasiskan syariah, maka koperasi ini akan cepat berkembang dan terlindung dari bisnis-bisnis dan tindakan-tindakan ekonomi yang tercela. "Apakah ekonomi ummat bisa maju dengan pembentukkan koperasi syariah ini? Jawabnya adalah bisa!" tegas Sukri.

Menurut pakar ekonomi syariah Dr. Muhammad Syafii Antonio, seperti dikutip repulika, bersyukur dengan adanya pembentukan Koperasi Syariah 212. Dia menyebut, koperasi syariah adalah bagian dari fardhu kifayah. Dengan kata lain, Koperasi Syariah Dua Satu Dua adalah salah satu upaya 'mengkapitalisasi' kewajiban fardhu kifayah dengan kegiatan terstruktur, produktif, dan transparan. Syafii menyebut koperasi tersebut harus menjadi milik bersama.

"Alangkah indah kalau ini dimiliki dan dilakukan umat bersama, tidak dikuasai dua atau tiga orang saja," ujarnya di acara Musyawarah Pembentukan Koperasi Syariah Dua Satu Dua, Sabtu (17/12). Dia berharap koperasi tersebut menjadi besar dan bisa membeli aset-aset yang bermanfaat bagi umat. Syafii menyebut, pemilihan bentuk koperasi untuk membangkitkan ekonomi umat merupakan cara yang baik karena secara badan hukum diakui oleh Indonesia. Setiap anggota pun terdaftar identitasnya.

Dia juga menyarankan untuk simpanan wajib tidak perlu besar agar meringankan anggota dari semua kalangan. Koperasi dapat menguatkannya dari sisi simpanan sukarela. "Supaya kuat dari sisi umat, kita 'bungkus' dengan wakaf karena wakaf milik umat. Kalau sudah dibilangin untuk wakaf, maka akan menimbulkan ghirah, menggelinding dan menjadi besar karena dia tahu ini untuk umat," ujarnya.

Artikel Terkait: Kapitalisme No, Syariah Yes Tapi Hanya Setengah Hati

M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network berpendapat, apapun program atau project yang dibuat, sejatinya harus memiliki visi kedepan dengan jelas serta dukungan SDM yang berkualitas. Koperasi syariah 212 jangan hanya sebatas simbol, namum harus mampu menjawab tantangan perekonomian umat Islam secara utuh. Abduh khawatir niat dan semangat yang mulia ini kurang dapat berjalan sesuai dengan harapan apabila tidak di jalankan secara sungguh-sungguh.

Masih menurut Abduh, persoalan perekonomian umat adalah minimnya penerapan konsep sharing economy, kebersamaan dan perhatian dari sesama umat Islam itu sendiri. Beda kalau dalam urusan sosial, umat Islam bisa cepat dan dengan mudah bersatu padu dalam spirit kebersamaan. Sejalan dengan didirikannya koperasi syariah 212, Abduh menegaskan agar umat Islam dapat bekerja sama dalam bidang ekonomi dengan menerapkan pola sharing economy (musyarakah dan mudharabah) secara nyata. (RED)

Baca Juga:

Tidak Perlu Label Syariah Untuk Menjual Produk Keuangan Syariah

Crowdfunding Syariah Dunia Bikin Aliansi

Rekomendasi

Baca Juga