Trivia Tenun Ikat Ende, Warisan Keindahan Yang Terancam Punah

Tenun Ikat Ende, Warisan Keindahan Yang Terancam Punah

sisiusaha (16/12)

creative people.. Warisan keindahan dan pesona tenun ikat Ende dari Nusa Tenggara Timur (NTT) kini terancam punah, jika dalam waktu dekat masyarakat dan pemerintah tidak saling bahu-membahu melestarikannya.

Kain tenun Ende memancarkan daya tarik tersendiri. Terlihat dari warnanya yang cenderung gelap dan kecoklatan karena proses pewarnaan alami. Selain itu, setiap motifnya menceritakan adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat.

Seperti motif gajah pada kain Zawo Nggaja Soke Mata Mere yang dibuat dengan perpaduan teknik ikat lungsi dan tenun sederhana. "Gajah dipercayai sebagai binatang kesayangan para dewa," kata Ali Abubekar seperti dilansir detik.com, penggagas sekaligus pengelola Museum Tenun Ikat Ende saat pembukaan pameran 'Pesona Kain & Budaya Ende' di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Rabu (15/12/2016).

Ada pula kain yang berhiaskan motif-motif mirip huruf kanji. Kain itu, kata Ali, menggambarkan jejak para pendatang dari Indo-China ke Tanah Flores, NTT. Coraknya yang halus namun padat karena terdiri dari motif dan ragam hias menjadi keunikan lain dari tenun ikat Ende.

Terlepas dari keistimewaan tersebut, kain Ende terancam punah karena berbagai kendala. Salah satunya datang dari para perajin sendiri. Dijelaskan Ali, belakangan banyak desainer yang mulai melirik kain tersebut untuk dipakai sebagai material utama. Namun kain yang tersedia umumnya belum sesuai dengan selera pasar, baik dari segi motif maupun warna.

Untuk itu, para perajin diharapkan dapat menghasilkan karya yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. "Hanya saja, meyakinkan para perajin untuk membuat sesuatu yang baru tidaklah mudah karena masih terpaku pada pakem tradisional," lanjut Ali.

Hal tersebut seharusnya menjadi momentum kebangkitan kain Ende di tengah popularitas kain batik sekaligus peluang untuk meningkatkan kesejahteraan perajin. Apalagi banyak masyarakat Ende yang menggantungkan hidupnya pada penjualan kain tersebut.

Sejak beberapa tahun terakhir, Ali pun mulai aktif melakukan pembinaan kepada para perajin. Selama pembinaan, ia mengajarkan cara pemakaian warna sintetis sekaligus mengenalkan corak-corak yang menjadi tren pasar tanpa meninggalkan ciri khas kain Ende sendiri. Saat ini, ada 50 perajin yang dibinanya.

"Biasanya, lama pengerjaan kain dari pewarna buatan dengan motif yang baru lebih singkat sekitar dua minggu," kata Ali. Dengan waktu yang relatif pendek itu, semakin banyak kain yang dihasilkan sehingga memenuhi kuota permintaan pasar. Untuk kain berwarna sintetis umumnya dipatok minimal seharga Rp 500.000 per lembarnya.

Regenerasi perajin juga menjadi rintangan tersendiri dalam upaya pelestarian tenun Ende. Berdasarkan pengamatan Bernadetha Maria Sere Ngura Aba, pemerhati sosial dan ekonomi tenun Ende, para perajin yang ada sudah berusia lanjut "Generasi muda yang merupakan usia produktif kurang tertarik menjadi perajin. Mereka lebih memilih hijrah ke kota atau negara lain sebagai TKI," kata Sere, sapaan akrabnya.

Sebagai solusi, besar harapan Sere agar pemerintah segera memasukkan muatan lokal tentang pengenalan tenun ikat Ende ke dalam kurikulum sekolah. Dengan begitu, tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap kain tersebut sejak kecil.

"Kalau tidak segera dilakukan, kita tinggal tunggu saja sekitar 20-30 tahun ke depan, Warisan Keindahan tenun ikat Ende benar-benar punah," katanya. Sere juga berharap, pemerintah juga harus bertindak tegas dalam menertibkan peredaran kain printing bermotif tenun Ende di NTT yang datang dari luar daerah. (EKA/RED)

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat