Opini Air Mata 'Buaya' Ahok

Air Mata 'Buaya' Ahok

sisiusaha (14/12)

creative people.. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengeluarkan air mata dalam sidang pertama kasus penistaan agama yang digelar di Pengadilan Negeri jakarta Utara dan bertempat di gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat selasa, 13 Desember 2016 kemarin menjadi perbincangan dalam masyarakat.

Sejumlah media asing seperti BBC News, Reuters, The Indian Express dan beberapa media lain juga menyebutkan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara itu diwarnai suasana emosional. Mayoritas menyorot Gubernur nonaktif DKI Jakarta yang sampai meneteskan air mata saat membacakan nota keberatan atas dakwaan penistaan agama itu.

South China Morning Post juga menyorot bagaimana Ahok berulang kali mengusap air mata menggunakan sebuah tisu. Diberitakan pula, Ahok tak kuasa menahan kesedihan kala menceritakan bagaimana dirinya dibesarkan di tengah keluarga angkat muslim. Menurut Ahok, jika dirinya dituduh menista agama, maka itu sama saja dituduh tidak menghargai orangtua dan saudara-saudara angkat muslimnya.

Tidak sedikit pula sejumlah ahli dan tokoh ikut menafsirkan air mata Ahok dalam persidangan pertama tersebut. Seperti diberitakan RMOL.CO Rabu 14 Desember 2016, Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menyebut itu tangisan dibuat-buat dan dilakukan dengan penuh kepura-puraan. Artinya, jelas Doli, Ahok melanjutkan kebiasaan berbohongnya seperti yang sering dilakukan selama ini.

"Jadi, ini situasi 'pencitraan' yang ingin membangun kesan seakan Ahok dizalimi," urai mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tersebut. Situasi kedua, lanjut Ahmad Doli, jika tangisan itu memang benar serius, mungkin Ahok memiliki penyimpangan kejiwaan. Artinya, sungguh mengerikan saat ada satu orang memiliki karakter yang kontras.

"Tangisan 'bombay' itu menunjukkan bahwa Ahok memang memiliki mental 'Inlander'. Ke bawah menginjak, ke atas menjilat," kata Ahmad Doli lewat pesan singkat elektronik, Rabu (14/12). Mengherankan, menurut Doli, Ahok yang berperilaku kasar dan semena-semena terhadap rakyat biasa. Namun sontak berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan atasan atau penguasa.

Sekretaris Fraksi PAN di DPR Yandri Susanto menilai, Ahok menangis hanya untuk mencari simpati. "Saya kira itu nangisnya air mata buaya. Itu modus.‎ Tujuannya nyari simpati," kata Yandri di Gedung DPR, Jakarta, dilansir merdeka.com, Selasa (13/12/2016). Lebih jauh, Yandri menilai, air mata Ahok buaya untuk mencari simpati majelis hakim agar bebas dari segala tuntutan. Maka itu, ia mengharapkan agar hakim tidak terpengaruh dengan sandiwara yang dilancarkan Ahok dalam persidangan tadi.

Ternyata istilah airmata buaya tidak hanya populer di Indonesia. Dalam khasanah bahasa Inggris pun istilah ini ada, yakni cry crocodile tears. Seperti di Indonesia, di belahan Barat istilah airmata buaya juga ditujukan untuk orang yang menangis pura-pura menyesal. Dalam salah satu artikel di National Geographics disebutkan bahwa selama berabad-abad lamanya manusia menggunakan istilah airmata buaya tanpa benar-benar tahu apa maksudnya. Baru belakangan inilah studi memperlihatkan bahwa reptil pemangsa itu benar-benar meneteskan airmata saat melahap mangsanya.

Menurut artikel yang terbit bulan Oktober 2007 itu, airmata sang buaya mengalir lebih karena alasan biologis, bukan karena alasan emosional seperti penyesalan. Kent Vliet dari Universitas Florida mengatakan, umumnya airmata buaya sama dengan airmata manusia.

"Anda bisa menyaksikan kelembaban di mata mereka atau air berkumpul di sudut mata. Pada waktunya, airmata akan menetes keluar dari sudut mata dan mengalir ke wajah mereka seperti airmata yang meleleh di wajah anak-anak manusia,” kata Vliet.

Sementara ahli buaya, Adam Britton, yang juga pendiri Crocodilian.com, dalam studi terpisah menjelaskan bahwa buaya memproduksi airmata sepanjang waktu. Fungsi airmata buaya sama seperti airmata manusia, yakni untuk melumasi mata. Ini bahkan lebih relevan bagi buaya karena mereka memiliki kelopak mata ketiga yang dikenal sebagai membran pengelip.

Studi yang dilakukan Universitas Florida juga mengatakan bahwa tak mudah mengamati airmata buaya yang tumpah. Ini karena mereka sering menghabiskan waktu di bawah permukaan air, dan juga karena mereka terlalu agresif saat berada di atas tanah. Di dalam kehidupan buaya yang cukup keras, airmata juga memainkan peran perlindungan. "Ada banyak drama yang terjadi di sekitar kepala saat mereka menelan mangsa," kata Vliet. Saat menelan mata buaya juga mundur ke arah kepala. (MAB/RED)

Rekomendasi

Baca Juga