Trivia Geumbak, Seni Membatik Ala Korea

Geumbak, Seni Membatik Ala Korea

sisiusaha (14/12)

creative people.. Selain di Indonesia, ternyata di Korea juga memiliki seni membatik geumbak atau juga disebut kum bak yeon. Pembuatan geumbak mengingatkan pada batik cap di Jawa, namun dengan ukuran dan model alat cap berbeda dengan menggunakan lem untuk membuat pola emas di kain.

Jika berkunjung ke Korea Selatan, terutama ke Ibu Kotanya, Seoul, di beberapa bagian komplek Bukchon Hanok Village, ada lokasi untuk wisatawan bisa belajar geumbak, pengecapan kain yang dilakukan sejak zaman dinasti Korea, tepatnya zaman Dinasti Joseon bahkan bisa dilakukan oleh wisatawan.

Bukchon Hanok Village merupakan lokasi wisata berupa komplek perumahan yang seluruh bangunannya masih berarsitektur tradisional Korea. Perumahan ini masih berpenghuni sehingga tak heran jika saat berkunjung ke sana masih ada aktivitas perumahan seperti mobil yang keluar masuk. Termasuk juga para pengunjung yang diminta untuk tidak berisik di area perumahan.

Kegiatan kum bak yeon sendiri dimulai sejak generasi pertama Wanhyeong Kim, pada masa pemerintahan Raja Cheoljong dari Dinasti Joseon (1849-1863). Kumbakyeon berlanjut hingga generasi ke-dua Wonsun Kim, yang bekerja sebagai dekorator daun emas untuk permakaman kenegaraaan Ratu Myeongseong. Kemudian generasi ke-tiga Gyeongyong Kim, berlanjut generasi ke-empat Deokhwan Kim, sebagai pemegang aset budaya untuk dekorasi daun emas, hingga generasi ke-lima, Giho Kim, dan istrinya yang mengelola kum bak yeon sebagai bisnis.

Penggunaan emas sendiri diartikan menjadi simbol keabadian, keindahan dan wewenang dari masa lalu. Busana batik geumbak biasanya digunakan keluarga kerajaan di hari pernikahan atau perayaan ulang tahun ke-60 seseorang. Biasanya, emas direkatkan di lembar kain menggunakan lem ikan. Namun lem itu membutuhkan proses pembuatan yang lama. Maka dibuat lah lem tiruan yang berasal dari pepohonan.

Alat cap geumbak dibuat simbol khusus yang memiliki makna berbeda-beda. Alat cap berupa huruf China, misalnya, memiliki arti kebahagiaan. Alat cap berbentuk bunga aster memiliki arti bintang yang bersinar di langit. Lalu, alat cap berbentuk bunga peony berarti loyal, dan alat cap berbentuk bunga krisan berarti seseorang yang baik.

Material yang diperlukan untuk pembuatan geumbak terdiri dari alat cap, kain sutra, lem khusus, kuas, emas tiruan (berupa kertas), serta kapas. Cara pembuatannya terbilang mudah. Pertama-tama, oles alat cap dengan lem secara merata, lalu 'panggang' alat cap tersebut di atas tungku pemanas selama lima detik. Setelahnya, bersihkan sisa lem di sela-sela alat cap, kemudian tempel alat cap di kain dan angkat bila sudah tercetak pola di kain sesuai simbol yang dipilih.

Berikutnya, tempel kertas emas di kain, dan ratakan sembari ditekan-tekan dengan jemari. Bila sudah merata, usap kapas secara perlahan untuk membersihkan kertas emas di sekitar pola. Maka jadilah cap simbol emas di kain. Selain kain, juga ada pilihan material lain yang bisa digunakan, yakni membatik di atas kartu ucapan, pembatas buku, hingga kantung kecil.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, jika memilih menggunakan emas imitasi harganya berkisar pada 10 sampai 20 ribu won atau Rp 120-240 ribu. Sementara bila ingin menggunakan emas asli harga yang ditawarkan yakni 40 sampai 60 ribu won atau sekitar Rp 480 sampai 720 ribu. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga