Trivia Kampung Wisata 'Warna-Warni' Jodipan Malang

Kampung Wisata 'Warna-Warni' Jodipan Malang

sisiusaha (17/10)

creative people.. Kampung Jodipan di Kota Malang, Jawa Timur dulu merupakan permukiman kumuh, namun dengan adanya sentuhan kreatifitas sekarang lebih dikenal sebagai Kampung warna-warni yang banyak dikunjungi wisatawan. Tiap akhir pekan diperkirakan jumlah pengunjung yang datang mencapai ratusan orang.

Para wisatawan itu, ada yang masuk ke dalam permukiman ataupun berfoto di atas jembatan dengan latar belakang Kampung Jodipan yang berada bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, sementara warga setempat tetap beraktivitas seperti biasa.

Ketua RW 2 Kelurahan Jodipan, Soni Parin tak menyangka kampungnya yang dulu dikenal sebagai permukiman kumuh menjadi obyek wisata alternatif. “Saya yang punya kampung bingung sendiri, apa ya yang mereka lihat?. Ada orang Belanda dan Australia juga yang ke sini,” kata Soni.

Setidaknya ada sekitar 107 rumah warga di sini dicat dengan 17 warna, dengan gambar yang dilukis komunitas mural. Inisiatif untuk mencat kampung ini muncul dari sejumlah mahasiswa mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammaidyah Malang yang tergabung dalam kelompok guyspro.

Koordinator guyspro, Nabila Firdausiyah mengaku awalnya ingin mengubah perilaku warga di bantaran sungai yang membuang sampah ke sungai, Jodipan dipilih lantaran terlihat memiliki lanskap yang bagus dilihat dari jembatan Jalan Gatot Subroto, kota Malang ini.

“Kami melibatkan komunitas mural dan seniman untuk melukis dinding rumah warga,” katanya. Dikerahkan sebanyak 30 tukang cat untuk mengubah wajah kampung kumuh Jodipan. Dia mengaku tak menyangka Jodipan kemudian menjadi tujuan wisata.

Pengecatan dilakukan oleh masyarakat dengan bantuan tentara dan juga bantuan salah satu produsen cat di Malang pada Juni 2016. “Warga membantu secara sukarela, ya membantu mengecat ada yang membantu konsumsi,” kata Soni.

Kampung Jodipan dihuni warga pendatang yang mendirikan rumah di tanah milik Negara. "Kami memang menempati tanah negara, tapi setiap tahun tetap membayar pajak bumi dan bangunan," jelas Soni. " Saya nyaman dan kerasan tinggal di kawasan bantaran sungai ini," tambah dia.

Awalnya kampung ini terancam akan digusur, tetapi sekarang Wali Kota Malang justru menetapkan permukiman warga Jodipan dan Ksatrian di bantaran sungai Brantas sebagai obyek wisata. (sumber: BBCIndonesia/RED)

Rekomendasi

Baca Juga