Opini Ahok Dibalik 'Jakarta Spring' Yang Menumbuhkan Kecerdasan Rakyat Memilih Pemimpin

Ahok Dibalik 'Jakarta Spring' Yang Menumbuhkan Kecerdasan Rakyat Memilih Pemimpin

sisiusaha (08/10)

creative people.. Memilih pemimpin bukan hal yang mudah, tanpa kecerdasan dalam memilih hanya akan menghasilkan seorang pemimpin yang justru akan menimbulkan sederet persoalan di kemudian. Alih alih membangun wilayah, justru kekecewaan dan keresahan warga berkepanjangan yang didapat ketika pemimpin pilihan ternyata hanya seorang yang ambisius kekuasaan dan memiliki kepentingan tersembunyi untuk kelompok dan golongannya.

Pilkada telah memberikan banyak pelajaran berguna bagi rakyat, akibat kecerobohan dalam memilih seorang pemimpin ternyata memberikan pengaruh negatif bagi rakyat secara luas dikemudian hari. Kesulitan memilih pemimpin berawal dari pertama seorang calon pemimpin mempromosikan dirinya, mempengaruhi rakyat dengan berbagai cara termasuk melakukan kecurangan dan kebohongan.

Proses pilkada DKI 2017 mulai digelar, salah satu calon gubernur yang juga petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara tidak langsung memberikan pelajaran. Sepak terjang ahok selama ini telah menerangkan siapa sesunggunya dirinya, berbagai kontroversi yang membuat sebagian besar rakyat kecewa berakibat munculnya "Jakarta Spring", yaitu menumbuhkan kecerdasan dalam memilih pemimpin.

Sekarang Rakyat lebih cerdas, tidak lagi mudah terbujuk rayu janji oleh calon pemimpin. Resiko besar yang didapat apabila salah dalam memilih pemimpin menjadi kekhawatiran. Yang terbaru 'kasus' penistaan ayat Al-Quran oleh Ahok menjadi pemersatu umat Islam, Ahok menjadi musuh bersama umat Islam. Kali ini Ahok benar-benar salah, bukan pengaruh dan dukungan yang didapat karena ulahnya yang sembrono itu, melainkan perlawanan dan kekompakan sebagian besar umat Islam dalam gerakan anti Ahok.

Artikel Terkait: Jakarta Spring, Gerakan Kesadaran Rakyat

Setidaknya ada 7 sikap Ahok yang menjadikan rakyat sadar dan lebih cerdas untuk memilih pemimpin kedepannya.

1. Kurangnya Integritas
Integritas atau memberikan kesetiaan atau kepedulian kepada wilayah, rakyat dan bawahan, yang berarti mempertahankan nilai-nilai dan moral yang dipercayai kepada rakyatnya. Integritas akan menunjukkan kepada rakyat tentang komitmen terhadap hal yang melindungi dan membangun tanpa merugikan.

2. Kurang Melihat Rakyat
Memimpin berarti juga mampu melihat ke sekeliling, saksikan bahwa ada rakyat yang ingin memiliki kehidupan, dengan rasa aman dan harapan tinggi yang merupakan kebutuhan setiap manusia. Bukan hanya berorientasi membangun perdababan kehidupan sosial baru dengan membunuh kehidupan lama.

3. Sombong, arogan dan seringkali mempermalukan orang lain di depan umum
Ahok gemar memarahi dan cenderung merendahkan orang lain termasuk anak buahnya sendiri di depan khalayak ramai. Ahok mungkin juga telah lupa, bahwa setiap orang tidak lah seperti dirinya. Manusia memiliki sifat dan karakter masing-masing dengan tingkat intelektual dan moral yang berbeda-beda. Dampak dari perilakunya yang suka mempermalukan orang lain dimuka umum, secara non teknis bisa menjadi boomerang baginya. Siapapun yang dipermalukan, bukannya menjadi insaf, tetapi mungkin saja justru berbalik menjadi benci dan antipati, hal ini sangat berpengaruh kepada kinerja seorang pemimpin.

4. Menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan
Ahok mudah menggunakan kata-kata yang tak pantas yang digunakannya untuk mencaci-maki pihak-pihak yang dibencinya. Meski itu tidak melanggar hukum namun jelas melanggar norma etika dan kesopanan, apalagi dia sebagai pejabat publik yang seharusnya bisa memberi contoh bagaimana menyampaikan pendapat yang santun di muka umum.

5. Menyalahkan pihak lain dan bersikap egois dengan menganggap dirinya selalu benar
Dalam beberapa kasus, apalagi menyangkut keberadaan pihak atau instansi lainnya, Ahok tidak jarang cenderung bersikap mencari-cari kesalahan untuk menutupi kelemahan diri sendiri.

6. Menggunakan jalan pintas dengan melarang segala kegiatan yang berpotensi melanggar aturan
Ditengarai ada beberapa permasalahan terkait dengan pelaksanaan ibadah agama tertentu, yang mana Ahok demikian mdah membuat peraturan untuk melarang kegiatan keagamaan tersebut demi menjaga kebersihan kota dan ketertiban/keamanan masyarakat Jakarta. Hal ini dinilai terlalu berlebihan, sebab seharusnya Ahok tak perlu membuat aturan pelarangan kegiatan ibadah, namun cukup dengan mengatur pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut, sehingga disatu sisi secara konsisten menghargai toleransi antar umat beragama dan di sisi lainnya tetap dapat menjaga kebersihan lingkungan dan ketertiban umum.

7. Tidak maksimal menggunakan sarana komunikasi dan musyawarah dalam menyelesaikan masalah
Ahok lebih suka memberi pernyataan terbuka dalam menanggapi keluhan dan aspirasi masyarakat daripada mengundang mereka untuk berdiskusi dan bermusyawarah dalam mencapai mufakat. Hal ini sangat jelas terjadi pada kasus penolakan dari ormas tertentu yang tidak menginginkan Ahok sebagai Gubernur terkait isu keagamaan. Ahok seolah mempersempit kesempatan untuk membuka komunikasi dalam menyelesaikan persoalan, yang membuka peluang perang opini di media masa dan berakibat makin lebarnya jurang pemisah diantara kedua pihak.

Bagaimanapun rakyat Jakarta dan mungkin seluruh rakyat Indonesia harus berterimakasih kepada Ahok, karena Ahok telah memberikan contoh sebagai pemimpin yang tidak sepantasnya memimpin rakyat. Sehingga kedepan rakyat akan semakin cerdas dan bijak dalam memilih pemimpinnya. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga