Opini Kapitalisme No, Syariah Yes Tapi Hanya Setengah Hati

Kapitalisme No, Syariah Yes Tapi Hanya Setengah Hati

sisiusaha (06/10)

creative people.. Sebuah survey dari organisasi nirlaba Oxfam menyebutkan bahwa lebih dari 50% kekayaan dunia dikuasai oleh kurang dari 1% orang terkaya dunia dan 80 orang terkaya dunia menguasai aset sebesar USD1,9 Triliun. Angka ini setara dengan jumlah harta yang dimiliki bersama oleh sekitar 3,5 miliar orang atau separuh populasi dunia yang tergolong masyarakat berpendapatan paling rendah.

Hal ini membuktikan bahwa perekonomian dunia hanya dikuasai oleh segelintir penduduknya. Persoalan ekonomi sudah sejak lama menjadi hal yang sulit dikendalikan, kekuatan modal pada akhirnya yang mengatur perekonomian. Berbagai sistem dan teori ekonomi hanya mampu mengatur regulasi yang kurang menyentuh rasa keadilan dan pemerataan bagi semua penduduk dunia.

Setelah sistem ekonomi sosialis rontok dan dinilai tidak sejalan dengan perkembangan, sistem ekonomoni kapitalis merajai dunia, dimana kekuatan modal atau kapital menjadi raja yang mengatur semua sendi perekonomian. Tidak hanya itu, kekuatan itu menembus wilayah politik dan sosial. Sehingga semua kehidupan hanya ditakar dengan kapital. Kesenjangan semakin besar, pemerataan ekonomi menjadi angan-angan dan slogan usang.

Sementara sistem ekonomi Islam yang lebih memberikan rasa adil, tidak berjalan seperti apa yang dimaksudkan. Sebagian besar umat Islam bahkan masih belum memahami makna dari ekonomi Islam. Bagaimana bisa menjalankan kalau memahaminya saja tidak mampu. Umat Islam merasa telah cukup dengan adanya Bank Syariah, lalu menganggap bahwa bank syariah adalah bentuk dan praktek telah berjalannya ekonomi Islam secara menyeluruh.

Pertama perlu dimengerti bahwa bank merupakan sub bagian dari sistem perekonomian. Bank adalah lembaga intermediasi dan agent of development, perbankan juga sebuah industri dimana memiliki orientasi profit. Jadi jelas bahwa tidak serta merta ketika berdiri perbankan syariah mutlak menunjukkan peronomian masyarakatnya juga sesuai syariah atau berjalan dengan sistem ekonomi Islam.

Memahami ekonomi Islam bukan hanya sebatas teori dan hitungan matematis, namun ruh ekonomi Islam memiliki semangat keadilan, kebersamaan yang didasari oleh keimanan. Sangat berbeda dengan teori kapitalis yang hanya didasari dengan angka-angka. Ekonomi dalam Islam adalah bagian dari kehidupan beribadah, seseorang sulit dipisahkan antara iman dengan perilaku ekonominya. Umat Islam harus mampu menerapkan semua ajaran agamanya, termasuk bagaimana dalam urusan perekonomian, yaitu cara mendapat dan membelanjakan uang yang nantinya akan diminta tanggungjawabnya.

Ketika meyakini harta adalah titipan Allah SWT dan rejeki juga Allah yang mengatur, harusnya juga konsisten menerapkan ajaran yang telah Allah berikan dalam pengelolaan hartanya. Kewajiban umat Islam terhadap harta tidak hanya sebatas zakat, infak dan sedekah, namun juga melalui harta umat Islam diharapkan mampu membangun sebuah peradaban ekonomi yang mendasari aspek keadilan dan pemerataan bagi masyarakat sekitarnya.

Islam mengenal sistem musyarakah (syirkah) dan mudharabah, yaitu menggabungkan antara modal dengan keahlihan dan tenaga menjadi satu kesatuan usaha. Bukan hubungan atasan bawahan atau majikan karyawan, tapi sebuah hubungan kebersamaan dalam membangun usaha yang dikelola secara bersama dan berbagi keuntungan bersama sesuai porsinya. Namun prakteknya sistem ini sangat minim, bahkan di perbankan syariah sekalipun hanya sebagian kecil dilaksanakan dari seluruh produk perbankan yang ditawarkan.

Kita sering mendengar bahwa konsep ekonomi Islam dalam prakteknya didasari dengan bagi hasil, sementara bagaimana bisa berbagi hasil kalau tidak menjalankan pola musyarakah atau mudharabah. Begitu pula dalam urusan usaha atau bisnis, penerapan konsep bagi hasil sebenarnya merupakan jembatan pemersatu dan mampu memberikan akses pemerataan ekonomi.

Sebaliknya dalam 3 tahun belakangan ini di beberapa negara kapitalis barat terjadi sebuah fenomena baru, yaitu crowdfunding. Crowdfunding itu sendiri adalah sebuah sistem pendanaan yang dilakukan bisa lebih dari satu orang dalam mendanai sebuah usaha atau proyek. Investor bisa secara berjamaah menanamkan investasinya kepada sebuah proyek atau usaha. Atau juga ada angel investor, yaitu seorang investor yang tidak dikenal sebelumnya tapi mau mendanai sebuah usaha baru, usaha rintisan (startup).

Pola ini sebenarnya sesuai dengan konsep musyarakah dan mudharabah dalam ekonomi Islam dan diharapkan menjadi sebuah sistem investasi alternatif baru yang dapat memberikan kesempatan berusaha bagi masyarakat pengusaha pemula. Banyak ditemui seseorang memiliki sebuah ide dan kreativitas, memiliki keahlian dan akan berusaha, namun terkendala permodalan.

Akses pembiayaan dari lembaga keuangan tentunya sulit memberikan solusi, karena lembaga keuangan memiliki kebijakan penyaluran kredit atau pembiayaan harus sesuai dengan undang undang perbankan. Yang salah satu isi undang undang tersebut mewajibkan nasabah kredit atau yang mengajukan pembiayaan sedikitnya telah berjalan selama 1-2 tahun, memiliki laporan keuangan dan juga jaminan atas kredit atau pembiayaan yang akan diajukan.

Namun dengan konsep crowdfunding semua persyaratan tersebut tidak diperlukan, yang terpenting adalah memiliki ide kreatif dan mampu mempresentasikan bahwa ide tersebut layak dan memiliki kemampuan untuk diaplikasikan dalam sebuah bisnis. Telah banyak cerita keberhasilan dalam penerapan konsep crowdfunding ini, sehingga saat ini pengusaha baru rintisan (startup) semakin banyak dan berkembang.

Melihat sistem dan pola crowdfunding ini sebenarnya sama dengan semangat ekonomi Islam, konsep dasarnya adalah berbagi hasil. Faktor kepercayaan dan kejujuran menjadi peran utama dalam konsep ini. Pemilik modal dapat berinvestasi dalam berbagai bidang sesuai dengan jenis usaha yang disukainya. Dapat juga terlibat secara aktif atau pasif dalam pengelolaan usaha rintisan bersama ini.

Dengan berinvestasi dalam usaha rintisan (startup) masyarakat sekitarnya, maka sesungguhnya lapangan usaha akan semakin berkembang. Jangan terlalu berpikir sulit dan besar, coba lakukan dengan berinvestasi berbagi hasil, semisal membuka kedai nasi rumahan, gorengan, dagang kecil kecilan, kerajinan, atau usaha lainnya bagi masyarakat sekitar yang tergolong ekonomi lemah. Jenis usaha ini tidak diperlukan modal besar, tapi cukup dengan seharga paket liburan akhir pekan sekeluarga.

Umat Islam yang katanya tidak sependapat dengan sistem kapitalis, seharusnya melihat kenyataan mengapa perekonomian umat Islam sulit berkembang dan sudah saatnya untuk membuka hati, ikut berpartisipasi dalam penerapkan sistem ekonomi syariah tidak setengah hati serta tidak hanya melaksanakan kewajiban zakat, infak dan sedekah namun juga mau memikirkan produktifitas perekonomian umat disekitarnya. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga