News Dapoer Bistik 'Teroris' Solo Ala Yusuf Adirima

Dapoer Bistik 'Teroris' Solo Ala Yusuf Adirima

sisiusaha (26/9)

creative people.. Perjalanan hidup terkadang penuh dengan misteri. Yusuf Adirima, seorang mantan teroris yang divonis 10 tahun dan telah bebas setelah menjalani masa tahanan selama 5,5 tahun kini berhenti dari dunia radikalisme. Ucup sapaan Yusuf Adirima ini lalu mengubah pandangannya tentang konsep rezeki yang sebelumnya mengakui rezeki di bawah kilauan panji-panji jihad, kini menjadi pengusaha kuliner.

Selain untuk memberikan lapangan pekerjaan, bisnis makanan/kuliner (Dapoer Bistik Solo) di Jl Kebangkitan Nasional, Penumping, Solo, juga untuk memberikan bekal wirausaha bagi eks napi terorisme.

Warung Dapoer Bistik Solo menyajikan menu spesial iga bakar yang terletak di tengah Kota Solo itu nyaris tak pernah sepi. Sejak dibuka pukul 11.00, pembeli hilir mudik sejak jam makan siang hingga pukul 21.00.

Ucup merupakan contoh nyata mantan jihadis yang sudah kembali ke masyarakat. Pada tahun 2000 an, Ucup adalah seorang kombatan yang mengikuti pelatihan di Kamp Hudaibiyah di Filipina selatan selama hampir tiga tahun. Pengikut Jamaah Islamiyah itu konon dikenal lebih piawai dari anggota militer dalam menggunakan senapan tempur jenis M16.

"Di sana, M16 tak boleh dilepas atau ditaruh. Makan, salat, tidur, harus tetap menyandang senjata. Sekarang pegang panci, piring, kadang-kadang setir," kata Ucup berkelakar.

Awalnya Ucup bingung dan kesulitan mencari pekerjaan, lau mempertimbangkan untuk membuka usaha sendiri. Beruntung ia bertemu lagi dengan Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, sebuah lembaga penelitian tentang terorisme, yang pernah mengunjunginya di penjara Kedung Pane, Semarang. Huda yang juga berasal dari Semarang menawari Ucup usaha dan yayasannya akan membantu mencarikan pinjaman modal.

Pengalamannya bekerja di bisnis kuliner membuat Ucup yakin usahanya akan berkembang. Ia sudah belajar banyak tentang bisnis ini dari soal memasak, pengadaan bahan baku, promosi, peluang pasar, hingga pembukuan. Ia mengaku berbisnis bukan hal mudah, apalagi bagi mantan jihadis yang sebelumnya sama sekali tak kenal dunia usaha.

Dalam waktu 4 tahun, bisnis kulinernya kini berkembang di Solo. Bahkan, dari usaha itu, Ucup bisa mengangsur cicilan tiga unit mobil yang kini digunakan untuk mengembangkan bisnis rental mobil di Semarang.

Bisnis ini dikelola empat orang, dua di antaranya mantan jihadis dengan menerapkan sistem bagi hasil. "Salah satu pelanggan setia nasi kotak adalah Polda Jateng, setiap hari pesan banyak, karena saya kenal polisi-polisi di sana sejak jadi tahanan," kata Ucup.

Ucup kemudian membuka cabang di Solo pada tahun kedua. Sayangnya, di saat yang sama, usahanya pecah kongsi. Kawan-kawannya berpisah karena ingin punya usaha sendiri-sendiri. Sementara, Ucup sudah terlanjur membuka bisnis rental mobil. Karena tak ada yang mengelola, warung di Semarang terpaksa ditutup.

Ia memilih mempertahankan Solo karena selain pasarnya dianggap lebih prospektif, ia juga memiliki banyak teman sesama jaringan mantan jihadis yang ikut membantu bisnisnya, terutama dalam promosi dan pemasaran. "Saya tinggal datang dan buka warung saja di sini, pemasaran, promosi, penyebaran brosur dilakukan kawan-kawan," kata Ucup.

"Tidak sedikit kawan-kawan satu alumni (jaringan jihadis-red) gagal karena kurang berusaha maksimal. Bisnis itu juga jihad, harus bersungguh-sungguh,” ujar Ucup menutupnya. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga