Opini Waspada Ancaman Perang Cyber

Waspada Ancaman Perang Cyber

sisiusaha (19/9)

creative people.. Dalam sesuatu hal selalu memiliki dua sisi, sisi positif dan negatif, begitu pula dalam dunia digital internet, selain banyak hal positif yang didapat, internet juga memberikan dampak negatif. Dari berbagai hal negatif yang ada, salah satunya adalah 'cyber war' (perang cyber) atau perang yang menggunakan sarana digital atau internet.

Cyber war adalah perang yang terjadi di dalam dunia Internet alias di dalam CyberWorld. Perang tersebut hanya bersenjatakan Koneksi Internet dan juga tentu saja Komputer (PC/NoteBook/NetBook). Menurut Richar A. Clark, seorang ahli dibidang kemamanan pemerintahan dalam bukunya Cyber War (Mei 2010), mendefinisikan Cyber War sebagai aksi penetrasi suatu negara terhadap jaringan komputer lain dengan tujuan menyebabkan kerusakan dan gangguan. Majalah The Economist menjelaskan bahwa cyber war adalah domain kelima dari perang, setelah darat, laut, udara dan ruang angkasa.

Kalau perang konvensional secara fisik dapat dilihat dalam bentuk kehancuran, terbunuhnya sejumlah orang dan pendudukan wilayah, maka perang cyber ini sebagian besar aktivitasnya terjadi di belakang meja dan tidak kasat mata. Tapi potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh cyber war ini bisa jadi sama membahayakannya dengan perang konvensional.

Aktivitas yang terjadi pada perang cyber ini pada umumnya adalah kegiatan hacking dan anti-hacking yang dilakukan secara 'resmi' oleh negara. Tujuannya mulai dari mencuri data hingga melumpuhkan sistem yang dimiliki oleh negara musuh. Dengan terhubungnya seluruh dunia melalui jaringan internet, Amerika, China, Rusia, Iran, Korea Utara, Korea Selatan, Jepang dan banyak lagi negara Eropa dan Timur Tengah, setiap hari terlibat dalam kegiatan cyber war ini.

Indonesia sendiri pernah terlibat 'cyber war' dengan Malaysia dan Australia, saat hubungan antar negara mengalami ketegangan beberapa waktu lalu, tapi sepertinya 'perang' itu bukan disponsori oleh negara.

Pada 2015 lalu, Edward Snowden mantan kontraktor CIA yang mendapat suaka Rusia menjelaskan bahwa aktivitas peretasan yang dilakukan negara-negara semakin meningkat, seiring dengan bergesernya paradigma perang dan intelejen modern yang semakin fokus ke dunia cyber.

Menurut Pratama Persadha, Chairman lembaga keamanan cyber Communication and Information System Security Research Center (CISSRec), perang cyber sudah menjadi ancaman yang serius bagi keamanan nasional. Kini negara-negara maju tidak lagi berperang di area terbuka, melainkan perang di ranah cyber dengan kekuatan besar.

Amerika contohnya, anggaran untuk pertahanan cyber digelontorkan sebanyak lebih dari Rp 144 triliun. Tidak hanya itu, kini urusan cyber AS langsung di bawah Presiden Obama. 

"Sampai saat ini masyarakat indonesia masih dengan sukarela, dengan senang hati memberikan informasi pribadi melalui sosial media. Diplomat dan Paspampres masih memakai email gratisan. Tentu ini harus ada kebijakan dan undang undang yang tegas mengatur," terang dia dalam keterangan tertulisnya.

Pratama menambahkan, kini negara-negara berlomba mengembangkan enkripsi. Ini sebagai pertahanan terakhir agar informasi tak mudah diretas dan diketahui negara lainnya. Bahkan kini enkrpsi tidak hanya identik untuk bertahan. Dengan kemampuannya, para peretas bahkan bisa membuat virus yang bisa melakukan enkripsi, yang terkenal dengan nama ransomware.

"Ransomware ini sangat berbahaya dan bisa membuat korban mengalami pemerasan oleh peretas. Karena itu, sebaiknya sedari dini pemerintah menyiapkan lembaga yang bertanggung jawab terhadap keamanan cyber," jelasnya.

Menurut Pratama kebutuhan akan Badan khusus yang mengamankan wilayah cyber sudah sangat mendesak. Peperangan informasi antarnegara, bahkan juga melibatkan korporasi besar harusnya bisa diantisipasi segara dengan membentuk badan Cyber Nasional atau semacamnya. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga