Opini Seks, Antara Kebutuhan Dan Bisnis Haram Yang Menggiurkan

Seks, Antara Kebutuhan Dan Bisnis Haram Yang Menggiurkan

sisiusaha (03/9)

creative people.. Baru-baru ini kita semua dikejutkan oleh terbongkarnya prostitusi gay secara online di daerah Cipayung, Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hal ini menambah daftar panjang deretan kasus bisnis haram prostitusi yang memprihatinkan. Yang semakin membuat heboh adalah terlibatnya anak-anak dibawah umur sebagai pekerja seks.

Bisnis haram prostitusi bukan barang baru, jauh hari sejak zaman dahulu bisnis ini telah ada. Yunani Kuno, pelacur jalanan disebut 'Pornoi.' Masyarakat Yunani Kuno telah mengenal 'Pelacuran kuil' sebuah institusi purba tempat para pelacur meyumbangkan uang hasil kerja untuk kuil Aphrodite demi mendapatkan anugerah dari para dewi. Bahkan mereka diberi gelar 'Hierodouli.'

Di Romawi, pelacur dikatakan sebagai penjahat dan pengganggu anak-anak. Selain diharuskan berpakaian tertentu untuk membedakan mereka dengan golongan bangsawan. Di Asysyiria, ditetapkan hukuman bagi pelacur membuka tutup kepalanya sebagai pembeda dengan golongan lain. Pada zaman Babilonia, dikenal nama 'Kizrete.' Mereka disanjung sebagai golongan terhormat. Cerita-cerita tentang pelacur terhormat ini turut mewarnai kisah rakyat Mesir Kuno.

Para antropolog menggambarkan bahwa pelacuran merupakan fakta yang tak dapat dielakkan, karena adanya pembagian peran laki-laki dan perempuan yang sudah muncul pada masyarakat primitif. Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks laki-laki. Para antroplog melihat bahwa pelacuran tidak lepas dari peninggalan masyarakat primitif yang berpola matriarkhi. Sedangkan kaum feminis memandang bahwa pelacuran adalah akibat dari kuatnya sistem patriarkhi. Sementara kaum Marxis melihat pelacuran sebagai akibat yang niscaya dari perkembangan kapitalisme.

Perkembangan zaman, bisnis haram prostitusi ini semakin berkembang dan menyasar berbagai kalangan. Lokalisasi di berbagai daerah telah banyak ditutup, penjaja seks jalanan juga semakin terbatas karena petugas semakin aktif merazia. Hal ini membuat pelaku bisnis haram ini merubah pola operasi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai sarana promosi.

Persoalan klasiknya karena adanya kebutuhan seks di satu sisi dengan kebutuhan ekonomi di sisi lainnya. Bisnis haram prostitusi ternyata bagi para pelakuknya merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Dengan mudah mereka yang terlibat dalam bisnis ini memperoleh penghasilan haram dari pelanggan dalam waktu yang singkat.

Sebagai contoh kasus prostitusi gay di Cipayung, Puncak beberapa waktu lalu di patok tarif haram sebesar sekitar Rp 1,2 juta. Kasus lain adalah ketika Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Bandung mengungkap bisnis prostitusi yang dilakukan di apartemen Panoramic, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung beberpa waktu lalu ada lima PSK yang ditangkap. Tarifnya dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta sekali kencan.

Selanjutnya, Direktur Reserse Kriminal Khusus Komisaris Fadil Imran mengatakan pihaknya membongkar bisnis prostitusi online seorang mucikari berinisial AN menawarkan pramugari berinisial V dengan harga Rp 7 juta dan eks model berinisial T dengan tarif Rp 5 juta untuk sekali kencan. Ini berawal dari tim patroli cyber yang curiga terhadap situs penyedia jasa model dan sales promotion girl. "Awalnya kami temukan situs yang menyediakan talent model atau SPG untuk sebuah event, tapi nyatanya setelah ditelusuri situs itu dipergunakan untuk menjajakan PSK," ujar Fadil, Sabtu, 20 Agustus 2016. Dalam situs tersebut terdapat foto-foto dan data diri sejumlah wanita berusia 20 tahunan.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus prostitusi lainnya yang mematok tarif jutaan rupiah atau juga lebih tinggi dengan menawarkan "artis." Pendapatan yang menggiurkan dalam bisnis haram ini membuat sebagaian orang yang memang memiliki kerusakan mental, minim akhlak serta iman terus berusaha mempertahankan usaha haramnya.

Seks adalah kebutuhan yang sangat manusiawi dan seharusnya dilakukan dengan cara yang halal dan terhormat, bukan sebagai komoditas ekonomi yang dijadikan bisnis haram guna mendapatkan pendapatan yang menggiurkan dalam waktu yang singkat. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga