News Burkini, Semakin Dilarang Semakin Meningkat Penjualannya

Burkini, Semakin Dilarang Semakin Meningkat Penjualannya

sisiusaha (24/8)

creative people.. Kebebasan atas masing-masing individu dalam menggunakan busana seharusnya menjadi hak-hak dasar yang dihargai. Keberagaman menjadi sebuah keindahan tatkala hal ini diartikan secara jujur. Namun lain halnya bagi wanita Muslim Prancis bernama Siam yang telah mengaku didenda dan mengalami pelecehan rasisme karena mengenakan jilbab di pantai Cannes.

Wanita yang berasal dari kota Toulouse itu sedang berjalan-jalan di pantai saat berlibur dengan dua anaknya. Dia mengatakan diberitahu oleh tiga polisi bahwa pakaiannya 'tidak sesuai' sementara sekelompok orang berteriak "Pulang ke rumahmu". Siam, 34 tahun, mengatakan dia tidak mengenakan burkini tapi jilbab yang menutupi rambutnya, legging, dan baju tunik. "Saya tidak bermaksud untuk berenang, hanya berjalan-jalan dan membasahi kaki saja," kata Siam pada situs web berita L'Obs.

Polsi mendekatinya dan memberitahu dia bisa tetap berada di pantai jika mengubah jilbabnya menjadi ikat kepala. Siam menolak perintah tersebut dan didenda US$12,45 (sekitar Rp165.000).Dia mengatakan, pada saat itu orang-orang berkumpul dan walau beberapa membelanya, yang lain mulai menyoraki aparat polisi dan mengatakan agar Siam "Pulang ke rumah" sambil mengatakan, "Di sini kami beragama Katolik!"  Kata-kata rasis yang dilontarkan sangat membabi buta. "Saya tak mampu berbicara apa-apa" kata Siam.

Wali Kota Cannes, David Lisnard, pada awal bulan ini melarang pemakaian pakaian renang yang menutup seluruh tubuh atau burkini di pantai dengan mengatakan burkini adalah 'simbol Islam paham ekstrem' dan kemungkinan mencetuskan pertikaian. 

Sementara itu larangan pemerintah kota Cannes di Prancis terhadap baju renang muslimah yang menutup seluruh tubuh alias burkini justru telah meningkatkan penjualan produk tersebut. Aheda Zanetti, yang mengklaim sebagai pemegang merk dagang burkini dan burqini, mengatakan penjualan burkini secara daring naik sebesar 200%.

Wanita asal Sydney berusia 48 tahun itu mengatakan bahwa baju-baju renang itu mewakili kebebasan dan hidup sehat, bukan penindasan. "Saya seorang perempuan Australia, saya sudah di sini sepanjang hidup saya," katanya. "Saya tahu apa artinya jilbab. Saya tahu apa artinya cadar. Saya tahu apa artinya Islam. Dan saya tahu siapa saya." (sumber BBC/RED)

Rekomendasi

Baca Juga