Opini Bau Busuk Dibalik Gerakan Anti Rokok

Bau Busuk Dibalik Gerakan Anti Rokok

sisiusaha (24/8)

creative people.. Beberapa hari belakangan masyarakat di gemparkan dengan wacana kenaikan cukai rokok hingga Rp.50.000,- per bungkusnya. Wacana ini didahului penelitian oleh Prof Hasbullah Thabrany dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) atau Center for Health Economic dan Policy Studies (Cheps) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Depok.

Dalam penelitian tersebut diungkapkan sebesar 46 persen perokok setuju untuk menaikkan harga rokok menjadi Rp 50 ribu atau lebih akan mengurangi konsumsi rokok. 72,3 persen Perokok sepakat harga Rp 50 ribu atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat mendukung kenaikan harga rokok tiga kali lipat akan berdampak pada penurunan konsumsi rokok.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan persoalan rokok di Indonesia tidak sederhana. Selain berkaitan argumentasi sehat dan tidak sehat, ternyata ada kepentingan-kepentingan tertentu dibelakang isu rokok dan tembakau. Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR, Firman Subagyo, mengatakan, isu rokok sudah masuk ke dalam ranah persaingan bisnis industri rokok dengan farmasi.

Bagi industri rokok, keberlangsungan produksi tentu menjadi fokus, sementara industri farmasi berada dibelakang gerakan anti-tembakau. Ini sudah memasuki ranah persaingan bisnis korporasi yang dilakukan oleh para pemain industri farmasi. Sudah diakui oleh pihak Fakultas Kesehatan Masayarakat UI bahwa mereka dibiayai oleh Bloomberg Initiatives (LSM Amerika Serikat).

Ternyata bukan hanya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) saja yang menerima dana dari Bloomberg Initiatives dalam kampanye antitembakau dan antirokok di Indonesia. Pemerintah Daerah, Lembaga Kementerian, YLKI dan beberapa Universitas Negeri juga turut kebagian kue Bloomberg ini. Yayasan amal ini milik multimiliarder sekaligus Wali Kota New York Michael Bloomberg. Bloomberg adalah sosok yang sangat dekat dengan kalangan industri farmasi dunia. 
 
Tak kurang pula pengurus Pusat Muhammadiyah adalah yang ikut disoroti pada 2010 karena ketahuan menerima dana dari Bloomberg hingga Rp 3,6 miliar demi mengeluarkan fatwa haram merokok. Bahkan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengakui Muhammadiyah mendapat sokongan dana dari lembaga asing untuk pengendalian penyakit TBC dan saluan pernafasan. Din menjelaskan, Muhammadiyah memang bermitra dengan lembaga-lembaga asing, seperti The Union for TBC and Lung Diseases dan Global Fund untuk menjalankan program kesehatan di Indonesia. Namun, menurutnya, itu tidak perlu dibesarkan menjadi rumor yang tendensius.
 
Bloomberg Initiative, sejak 2006 telah mengucurkan 125 juta dolar AS, kemudian 250 juta dolar di tahun 2008 serta jutaan dolar AS juga dibagikan pada tahun-tahun berikutnya sebagai komitmennya dalam memerangi tembakau. Bloomberg Initiative bergerak di lima lini organisasi, yaitu Campaign for Tobacco Free Kids, Centers for Disease Control and Prevention Foundation, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, serta WHO, and World Lung Foundation.
 
Perang besar memperebutkan nikotin antara industri farmasi dan industri rokok di AS sejak 1990-an. Nikotin menjadi rebutan karena punya banyak manfaat medis, namun tidak bisa dipatenkan. Nikotin terkandung secara alami pada tembakau, tomat, kentang, dan banyak jenis sayuran lain. Hanya senyawa "mirip nikotin" dan sarana pengantar nikotin yang bisa dipatenkan. Kepentingan industri rokok atas nikotin sudah jelas, sementara kepentingan industri farmasi adalah bisnis perdagangan obat yang dikenal dengan Nicotine Replacement Therapy (NRT).
 
WHO dan badan-badan pemerintah federal AS membuat industri farmasi berada di atas angin serta menjadi sponsor mengucurkan dana untuk kepentingan kampanye anti-rokok. Pada 1998, Pharmacia Upjohn, Novartis, dan Glaxo-Wellcome menjadi sponsor terbentuknya WHO Tobacco Free Initiative (TFI). Ketiganya adalah perusahaan farmasi yang memasarkan produk produk-produk NRT. Pharmacia Upjohn menjual permen karet nikotin, koyok transdermal, semprot hidung, dan obat hirup. Novartis menjual koyok habitrol. Sedangkan Glaxo-Wellcome menjual zyban.
 
Salah satu misi TFI adalah mempromosikan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), sebagai landasan hukum internasional dari WHO untuk memerangi tembakau. Michael Bloomberg sendiri ikut merapat ke WHO. Melalui Bloomberg Initiative, pada 2006 ia mengucurkan 125 juta dolar AS, kemudian 250 juta dolar di tahun 2008, sebagai komitmennya dalam memerangi tembakau. Bloomberg Initiative bergerak di lima lini organisasi, yaitu Campaign for Tobacco Free Kids, Centers for Disease Control and Prevention Foundation, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, serta WHO, and World Lung Foundation. Di belakang Bloomberg adalah salah satu Direktur Novartis, yaitu William R. Brody, yang juga teman dekat sekaligus penasihatnya.
 
Menurut M Abduh Baraba, CEO sisiusaha network, kepentingan Bloomberg melalui Bloomberg Initiative tidaklah sulit dibaca. Bloomberg adalah sosok yang sangat dekat dengan kalangan industri farmasi dunia. Padahal industri farmasi sangat getol mendukung kampanye anti-rokok. Mereka menawarkan produk-produk yang membantu orang untuk berhenti merokok. Pada 2015, mereka mencetak penjualan hingga lebih enam miliar dolar dan diprediksi akan terus meningkat di tahun-tahun setelahnya.
 
creative people.. Apabila cukai rokok dinaikkan secara drastis, maka dengan terpaksa perokok akan mengurangi konsumsi atau bahkan berhenti, dampaknya adalah industri rokok akan sekarat. Selanjutnya ketergantungan perokok akan nikotin akan tergantikan oleh produk nikotin non rokok oleh perusahaan farmasi di belakang Bloomberg yang saat ini telah beredar. (RED)

 

Rekomendasi

Baca Juga