Opini Harga Rokok Naik, Perokok Beralih Ke 'Tingwe' (Melinting Dewe)

Harga Rokok Naik, Perokok Beralih Ke 'Tingwe' (Melinting Dewe)

sisiusaha (22/8)

creative people.. Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Itulah peringatanan bahaya rokok yang terpampang pada setiap bungkus rokok. Perokok sangat familiar dengan peringatan itu, tapi sepertinya tidak pernah dihiraukan. 

Ketika orang sudah kecanduan rokok, sulit menerima nasehat baik yang disampaikan. Bahkan terkadang ada yang memberikan nasehat konyol bagi orang yang baru coba-coba merokok "bagi yang belum pernah merokok jangan sesekali mencoba rokok, tapi bagi yang sudah terlanjur jadi perokok jangan sesekali coba berhenti." Sepertinya itu adalah kalimat konyol nan egois bagi diri perokok sendiri ketika menasehati orang yang tidak merokok.

Soal rokok dan kesehatan memang telah lama menjadi bahan perbincangan. Pro dan kontra soal kesehatan dan bahaya merokok masih saja menjadi topik hangat. Kini, muncul topik baru mengenai harga rokok naik. Seperti biasa, sebagian orang ada yang berteriak tak setuju, sebagian lagi juga ikut berteriak namun mendukung. 

Ternyata wacana harga rokok yang akan dinaikkan ini bisa menjadi salah satu cara untuk membuat para perokok aktif stop merokok. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan kesehatan perokok itu sendiri, tapi juga orang lain yang menjadi perokok pasif. Artinya, rokok bisa meningkatkan angka kematian hingga pembengkakan biaya yang dikeluarkan negara untuk mengobati siapa pun yang terkena dampak dari rokok. 

Banyaknya orang yang sakit akibat rokok ini menandakan rokok meningkatkan angka Penyakit Tak Menular (PTM). Untuk itu, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia membuat suatu studi mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi angka yang terus melonjak tiap tahunnya. 

Hasil studi yang dilakukan pada Desember tahun lalu ini menunjukkan, kemungkinan perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan dua kali lipat. "Satu sampai dua bungkus rokok per hari itu jika dihitung besaran pengeluaran untuk rokok per bulan mencapai Rp 450 hingga Rp 600 ribu. Dalam studi ini para perokok bilang kalau harga rokok di Indonesia naik jadi Rp 50 ribu per bungkus maka mereka akan berhenti."

Bagi kalangan yang mampu, kenaikan harga rokok ini tidak menjadi pengaruh, mereka lebih baik mengeluarkan biaya tambahan dari pada harus berhenti merokok. Namun bagi golongan perokok yang berkantong pas-pasan tidak lalu pasrah menerima kenaikan harga rokok ini. "tidak ada rotan akar pun jadi" itulah pepatahnya, mereka akan berusaha tetap mengisap bakaran tembakau dengan cara lama, yaitu dengan melinting sendiri walaupun menjadi tidak praktis.

Ketika wacana harga rokok naik sampai dengan Rp.50.000,- per bungkus, banyak orang yang justru memanfaatkan kesempatan ini dengan menawarkan cara merokok alternative menggunakan rajangan tembakau yang dilinting dengan kertas papir. Melinting rokok seperti ini merupakan hal biasa bagi masyarakat desa khususnya kaum tua.

Iklan tentang penawaran jenis tembakau, kertas papir bahkan peralatan pipa cangklong di internet hari-hari belakangan ini meningkat tajam, persiapan adanya peluang perokok akan tetap merokok dengan biaya yang terjangkau cepat ditanggapi. Pilihan memang selalu tersedia, wacana menaikkan harga rokok yang semangat utamanya adalah untuk memaksa perokok untuk berhenti akan menjadi sulit tercapai.

creative people.. Merokok adalah kesukaan walaupun mengakibatkan kecanduan, sulit untuk memaksa orang untuk meninggalkan kesukaan secara sepihak tanpa kesadaran dari diri sendiri serta tobatan nasuhah terhadap kebiasaan merokok. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga