Trivia Wisata Bersyukur Di Kampung Difabel Ponorogo

Wisata Bersyukur Di Kampung Difabel Ponorogo

sisiusaha (22/8)

creative people.. Berwisata itu tidak selalu harus ke gunung atau tempat-tempat yang Indah. Akan tetapi ada sebuah pilihan lain untuk mengunjungi tempat yang bisa membuat hati selalu penuh dengan rasa bersyukur, tempat di mana bisa mendapatkan ketenangan hati atas nikmat yang telah didapatkan.

Pernah denger kampung difabel (ideot) di Ponorogo? Ya, Desa Sidoharjo, Karangpatihan, dan Krebet yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur ini emang udah terkenal bahkan hingga dunia internasional. Bahkan beberapa media asing sempat menyoroti kurang beruntungnya warga yang ada di desa ini.

Kondisi miris ini mudah ditemui di beberapa desa di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tidak hanya orang-orang dewasa saja, juga terdapat anak-anak hingga remaja yang mengalami keterbelakangan fisik dan juga mental ini. Nyaris lebih dari 400 orang difabel masih ada dan bertahan di desa ini. Artinya nyaris setiap keluarga di desa ini memiliki satu anggota keluarga yang mengalami keterbelakangan mental. Angka ini tentu saja terbilang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan sedih para warga desa ini. Hal itu lantas memaksa mereka untuk berada dalam kurungan, pasung dan kaki yang dirantai ?

Kondisi yang memprihatinkan ini udah terjadi sejak tahun 60-an. Anak-anak yang lahir pada zaman itu rata-rata terlahir dengan membawa keterbelakangan mental dan fisik. Hal ini diduga karena adanya pernikahan sedarah di desa tersebut, yang belum diketahui kebenarannya. Adanya hama tikus pada saat itu juga turut menjadi penyebab. Tapi, kemiskinan yang menggerogoti warga desa adalah hal yang paling diyakini jadi penyebab lahirnya anak-anak difabel ini. Kekurangan gizi dan yodium membuat seperempat penduduk desa menjadi seperti ini.

Rata-rata desa yang memiliki banyak penderita difabel ini berada di sekitar lereng pegunungan kapur yang kering. Hal ini tentu membuat masyarakat pada saat itu susah untuk bercocok tanam. Penghasilan yang didapat pun tentu nggak banyak. Akibatnya jelas, makanan menjadi sebuah barang berharga yang susah didapat. Kebanyakan dari mereka hanya makan nasi tiwul, makanan yang berasal dari nasi dan singkong. Dan generasi yang lahir pun nggak terhindar dari kecacatan.

Jangankan buat berobat ke rumah sakit jiwa, untuk makan besok aja mereka belum tentu bisa. Pendapatan mereka jauh dari cukup. Satu keluarga hanya menghasilkan 300ribu - 500ribu per bulannya. Bayangkan bagaimana mereka bisa bertahan dengan pendapatan segitu. Uang jajan remaja kota saja mungkin berkali-kali lipat lebih besar dari itu dan kebanyakan remaja kota masih banyak keluhan ini itu.

Jika ke Ponorogo jangan hanya ingin mengunjungi wisata alamnya yang begitu menarik, atau menikmati kebudayaannya saja, tapi coba temukan sisi lain di Ponorogo. Lihatlah mereka yang masih bisa bertahan dalam segala kekurangan. Nggak ada salahnya juga menyisihkan sedikit dari apa yang dimiliki untuk mereka. Ketika masih ada anak tidak mau pergi sekolah kalau tidak dikasih kendaraan, sedangkan bagi mereka mengenyam pendidikan adalah sebuah hal yang dicita-citakan. Ketika masih bisa miih-milih makanan, sedangkan mereka harus bersusah payah untuk mendapatkan kebutuhan pangan.

creative people.. Dijamin rasa bersyukur akan semakin tinggi ketika melihat secara langsung kondisi kampung difabel ini, namun khusus bagi orang yang telah mati mata hati dan perasaannya akan terasa biasa saja. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga