News Tempe Jadi Makanan Mewah Di Mancanegara

Tempe Jadi Makanan Mewah Di Mancanegara

sisiusaha (22/8)

creative people.. Kalau pernah mendengar istilah mental tempe, jangan terburu-buru mengasosiasikan dengan mental rendahan. Boleh jadi istilah itu dahulu dianggap sebagai sebuah ekspresi rendah, karena tempe merupakan makanan murah dan biasa dimakan oleh masyarakat kalangan bawah. Namun saat ini tidak lagi tepat sepertinya, karena tempe merupakan makanan mewah di mancanegara.

Seorang Peneliti tempe dari Inggris, Jonathan Agranoff mengaku, kalau tempe menjadi makanan mewah dan langka di Inggris. Kebanyakan para pecinta tempe adalah dari kalangan vegan di Inggris. Saking langkanya warga Inggris rela merogoh kocek hingga US$ 20 atau sekitar Rp.260.000,- untuk satu porsi menu tempe.

"Tempe sangat susah payah bikinnya jadi wajar kalau barang langka ini harus dijual mahal. Di London tempe merupakan barang langka dan mewah yang biasa dikonsumsi orang vegan dan vegetarian. Dengan kualitas bagus untuk satu porsi di restoran mereka mau bayar 20 dolar biasa. Jadi Indonesia harus meniru cara ini," ujar Agranoff.

Menurut Agranoff, tempe sebagai makanan asli dari Indonesia sebenarnya makanan murah dan bergizi sekali. Saat ini, banyak kacang kacangan seperti lamtoro dan kacang koro benguk yang bisa jadi penyedia gizi di daerah yang kekurangan gizi. "Saya juga buat di London, konsumen di London mengenal tempe sebagai menu makanan vegetarian atau vegan. Namun sayangnya orang sana tidak terlalu mengenal dengan nama Indonesia. Ini yang kurang dari pariwisata dari Indonesia.

Tempe bukan milik Amerika dan bukan milik Malaysia yang sudah mematenkan tempe juga dalam bentuk mereka masing masing. Jadi harus cepat ambil sikap dan bagian lah. Jangan sampai teknologi tradisonal otentik dari Indonesia ini dimanfaatkan oleh orang luar," ujar Agranoff.

Selain di London, ternyata tempe juga sudah melanglang dunia. Makanan khas Indonesia ini dapat ditemui di Amerika Serikat. Adalah Ratina Muljono yang mempopulerkan tempe di California dengan membuka Tempe House sejak 1999. Meski hanya mengecap pendidikan SD, namun darah bisnis mengalir dalam dirinya. Idenya muncul ketika ia menyatakan akan memulai usaha dan berjualan sesuatu. Temannya menyarankan untuk jualan tempe segar karena di sana belum ada yang jual tempe. Ratina pun belajar membuat tempe segar. Ternyata membuat tempe tidak semudah yang dia duga.

Awalnya, ia yang menawarkan ke toko atau supermarket, namun sekarang justru toko atau supermarket yang memesan dan membayar di muka. Tempe buatannya disukai pelanggan karena rasanya yang enak dan menjual. Suksesnya seorang Ratina asal Indramayu, Jawa Barat ini membuktikan bahwa membuka usaha sendiri terlebih bisnis makanan khas Indonesia banget, tempe, bisa menjadi lahan yang menguntungkan bagi kehidupan seseorang. Terinspirasi dari kisah sukses Ratina, dengan membuka usaha sendiri tidak hanya menguntungkan diri sendiri tetapi juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, tentunya berguna bagi orang lain.

Cerita lain tentang usaha makanan tempe juga berkembang pesat di negara Jepang. Rustono, orang Indonesia mendirikan pabrik tempe di Jepan. Terlahir di kota kecil Grobogan, Jawa Tengah ternyata tidak menyurutkan semangat juang Rustono (43). Mantan bell boy Hotel Sahid Yogyakarta ini sukses merintis usaha tempe di negeri sakura (Jepang) serta mendapatkan gelar khusus yakni The King of Tempe. Hijrahnya Rustono ke Tokyo, Jepang telah membuatnya berhasil menjadi pengusaha tempe di negeri sakura.

Tempe selain bergizi tinggi, rasanya yang gurih akan membuat lidah orang yang menyantapnya terkenang-kenang. Tempe dapat diolah menjadi berbagai masakan yang nikmat dan lezat, sehingga tidak heran jika tempe banyak disukai banyak orang hingga ke mancanegara. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga