Trivia Warung Jamu Ginggang Jogja, Resep Warisan Tabib Kerajaan

Warung Jamu Ginggang Jogja, Resep Warisan Tabib Kerajaan

sisiusaha (20/8)

creative people.. Ketika cara pengobatan sudah sangat modern, ternyata keberadaan ramuan jamu dan obat tradisional menjadi sesuatu pilihan alternatif yang paling sering dicari. Disamping memiliki efek samping yang sangat kecil, jamu tradisional juga mampu memberikan khasiat yang maksimal bagi tubuh.

Untuk menikmati jamu tidak harus susah payah masuk hutan atau blusukan ke pasar tradisional guna mendapatkan bahan bakunya, kini telah banyak tempat-tempat yang menyediakan resep ramuan jamu tradisonal. Bagi masyarakat Jogja atau yang sedang berada di Jogja dapat menikmati seduhan jamu tradisional di warung jamu Ginggang. 

Terletak di daerah Pakualaman, Jogja, warung jamu Ginggang ini buka mulai Pukul 08.30 hingga 20.30. Warung jamu Ginggang adalah salah satu tempat yang menjual jamu khas tanah Jawa asli. Warung jamu ini berbeda dengan penjual-penjual jamu pada umumnya. Selain menyajikan minuman jamu sebagai obat tradisional, warung jamu Ginggang ini juga menjual minuman jamu sebagai minuman kreatif dengan beragam jenis pilihan rasa.

Selain itu Warung Jamu Ginggang menawarkan konsep yang berbeda dalam menikmati jamu. Ada meja dan kursi yang disediakan bagi pengunjung yang ingin langsung menikmati kesegaran Jamu Ginggang. Mirip kafe. Bedanya Warung Jamu Ginggang masih menggunakan perabot tempo dulu sehingga yang berkunjung kesana serasa berada di rumah nenek.

Sambil menyeruput minuman sehat ini, tak perlu buru-buru meninggalkan tempat ini karena pengunjung Jamu Ginggang bisa melepas penat sembari menikmati rindang pepohonan yang ada disekitar warung jamu jawa asli ini. Untuk menikmati segelas Jamu Ginggang cukup merogoh kocek Rp.3000 - Rp.12.000. Jamu Ginggang sendiri terdiri jamu telor seperti sehat pria telor, beras kencur telor dan galian putri telor. Ada juga Jamu biasa alias disajikan tanpa tambahan telor antara lain kencur biasa, uyup-uyup atau temulawak. Bagi yang ingin menikmati kesegaran jamu dalam kondisi dingin, tak perlu kuatir beberapa jamu juga bisa disajikan beserta es.

Rudi sebagai generasi ke-5 yang mengelola usaha ini menceritakan bahwa Ginggang adalah satu pelopor industri jamu yang ada di Yogyakarta. Warung jamu ini mulai berdiri sejak jaman Sri Pakualaman ke VI yaitu sekitar tahun 1930. Sebelumnya, Mbah Joyo sebagai pendiri warung jamu ini merupakan seorang abdi dalem (pelayan) Pura Pakualaman Yogyakarta. Mbah Joyo berperan sebagai tabib kerajaan. Setelah Ia berhasil meramu beberapa jenis jamu sebagai obat tradisional yang berkhasiat, Sri Pakualam kemudian menyarankan Mbah Joyo untuk membuka warung jamu yang bernama Tan Ginggang.

Ginggang merupakan sebuah istilah dalam bahasa Jawa yang memiliki arti renggang dan merupakan sebuah cuplikan dari peribahasa Jawa yaitu "datan ginggang sarikma" artinya tidak renggang walaupun hanya berjarak sehelai rambut. Bisa diartikan dengan jamu ini hubungan yang renggang atau agak jauh bisa direkatkan. Selain itu hubungan yang terjalin antara keraton Pakualaman dan warga masyarakat sekitar keraton juga senantiasa rukun tanpa ada jarak sosial. Penyakit yang bersarang dalam tubuh pun akan segera menjauh dengan jamu ini.

Mbah Joyo juga sudah memodifikasi jamu menjadi sebuah minuman kesehatan yang bersahabat. Warung jamu "Tan Ginggang" kini disingkat menjadi "Ginggang". Yang bermula dari warung jamu biasa kini warung jamu Ginggang sudah berkonsep menjadi resto jamu. Pelanggan yang datang ke warung jamu Ginggang juga cukup beragam, baik warga sekitar maupun luar kota. Selain itu jamu juga dapat diminum di tempat atau dibawa pulang oleh para penikmatnya.

Warung jamu Ginggang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar membuat jamu secara langsung. Jika Anda membawa bahannya sendiri, warung jamu Ginggang akan memberi tahu bagaimana membuat jamu sebagai minuman sekaligus obat tradisional mulai dari pemilihan bahan, penimbangan, cara penumbukan, pemipisan, penyaringan serta penyaringan hingga penyajian. "Namun, harus konfirmasi terlebih dahulu sebelumnya" kata Rudi sang pengelolanya. (RED)

 

Baca Juga: Suwe Ora Jamu

Rekomendasi

Baca Juga