Opini Dollar dan Tidur Nyenyak Pedagang Gorengan

Dollar dan Tidur Nyenyak Pedagang Gorengan

sisiusaha (1/10)

Sudah sebulan terakhir ini sahabat-sahabat saya yang berprofesi sebagai pengusaha menjadi sering mengeluh, alasannya jamak dunia usaha lesu, perekonomian sulit, pendapatan rendah sementara anggaran pembelanjaan semakin meningkat. Tak pelak mereka pusing tujuh keliling, memohon rescheduling kewajiban yang telah jatuh tempo dan itupun semakin sulit terkabulkan. Perlahan asset perusahaan yang kurang produktif mulai di likuidasi bahkan sampai asset pribadi sekalipun. Sementara ketakutan para karyawan pun semakin menjadi, PHK di depan mata.

Kegelisahan, kecemasan serta ketakutan akan kelangsungan usaha menjadi dominasi pikiran mereka, siapa yang salah? siapa yang bertanggung jawab? dan siapa pula yang mampu menyelamatkan? menjadi sibuk berebut porsi dan posisi di dalam alam abstrak mereka. Sulit berpikir optimis, sulit menikmati tidur pulas menjadi kebiasaan baru mereka dan seterusnya justru akan membuat keadaan semakin lemah, ya.. lemah jiwa raga mereka.. ilmu dan jurus bertahan pun menjadi sesuatu yang sering di cari serta kekuatan doa menjadi kebutuhan utamanya. Prihatin sangat saya melihatnya, semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan serta jalan keluar dari semua permasalahan usaha yang ada.

Sisi yang berbeda terjadi pada pedagang gorengan yang kebetulan saya jumpai sedang mangkal di depan sebuah kantor bergengsi, sambil memesan bala bala, tahu dan tempe goreng saya ajak berbincang kecil nan sederhana, kang, gimana usaha gorengannya? dengan sederhana pula di jawab Alhamdulillah lebih sering habis setiap hari berdagang, satu pertanyaan lagi saya lontarkan, ada pengaruh tidak dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan di jawab dengan sebuah cerita ringan aktifitasnya, dimulai dengan bangun sebelum subuh, ke pasar membeli semua bahan yang diperlukan, mengolah serta menjajakannya seharian, menjelang malam kembali ke rumah dengan sedikit atau tidak sama sekali menyisakan daganganya, lalu tidur nyenyak sepanjang malam. Rutinitas seperti itu yang dilakukannya. Dengan demikian saya dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya penjual gerengan tersebut tidak terkena dampak nilai tukar mata uang.

Hidup ini sebenarnya selalu memiliki dua sisi, susah senang, sulit mudah dan sedih gembira, pada saat tertentu semua merasakan situasi dalam posisinya, ketika kita melihat keatas kita sering silau, sementara ketika kita melihat kebawah mampu membuat kita bersyukur. Teringat dengan sahabat pengusaha saya yang di awal saya ceritakan, terjadi sebuah femonema, ketika mereka melihat kebawah mereka bukan bersyukur, namun mereka iri sebetulnya dengan kondisi pedagang gorengan. Ternyata menurut para sabahat pengusaha saya kehidupan pedagang gorengan lebih damai, lebih bahagia dan lebih nikmat.

Saya menjadi teringat sebuah pepatah jawa, "wang sinawang" yang artinya kira kira jangan hanya selalu melihat tampilan luar semata. Sebuah kebutuhan dasar manusia yang semua sepakat menginginkan "tidur nyenyak" ternyata sedang menjadi milik para pelaku usaha kecil dalam situasi perekonomian sulit ini. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat