Opini Modal vs Ide Kreatif

Modal vs Ide Kreatif

Sisiusaha (1/10)

Beberapa waktu belakangan, banyak wirausahawan muda membangun usaha resto atau kafe modern dengan cita rasa tinggi. Romantic, high tea, great breakfast, great coffee, casual dining, sweet tooth, sunday brunches, sampai quick bitesItalian and French, English, Korea, America, semua ada. Cita rasanya memang tinggi,  membuat Anda ingin kembali lagi mengajak orang lain. Tapi apakah semuanya berhasil? Diperlukan modal yang tidak sedikit untuk memulai usaha tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, nominal sebesar tiga sampai lima milyar harus disiapkan wirausahawan tersebut, itupun tanpa adanya jaminan uang kembali. Rata-rata pelaku usaha adalah mereka yang memiliki orang tua cukup tajir. Beberapa sumber menyebutkan, anak dan menantu mereka harus nombok gaji pegawai dan biaya operasional selama dua tahun, itupun kalau beruntung. Tak jarang juga yang kelabakan dan menyerah di tengah jalan, lalu ganti pemilik,  konsep,  merek, dan harus mulai lagi dari awal.

Fenomena modal besar seperti ini banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Tak kalah juga anak muda Bandung, mereka sudah lebih dulu jatuh bangun di Jalan Dago dan sekitarnya yang merupakan kawasan premium bagi usaha kuliner bercita rasa tinggi. Fenomena restoran musiman menjadi biasa kita temui dengan ketahanan sekitar setahun-dua tahun. Tapi, secara demografi, mereka agak berbeda. Ada perantau yang baru menjajal keberuntungan di kota besar, dan ada pula pewarung yang baru naik kelas. Toh mereka tak luput dari risiko kegagalan.

Dimana-mana usaha kuliner selalu menghadapi ujian yang sama, yaitu konsumen yang datang melakukan belanja coba-coba. Ujian itu berlangsung 3-6 bulan, dan kalau mereka suka, barulah mereka menjadi pelanggan tetap. Maka, usaha kuliner harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti lokasi yang membuat pelanggan tak punya pilihan lain, atau franchise saja makanan yang sudah punya pelanggan kuat namun masih dikelola secara amatir. Di luar itu, daya saing akan menghadapi ujian yang berat. Setiap kali kita mendapat pujian, maka ada saja pendatang baru yang memindahkan sebagian pelanggan kita ke sana. Konsumen berpindah, menjadi kurang setia dengan merek yang kita bangun. Ditambah lagi, selera makanan berubah dari masa ke masa.

Lantas apa dong rahasia agar usaha kuliner  berhasil? Modal besar itu bukanlah sesuatu yang keren dan menentukan. Demikian juga lokasi premium dan tampilan  warung.  Yang baik itu sesungguhnya ada pada manusia yang berusaha, yang berawal dari ide kreatif, tahu persis siapa yang dibidik dan apa seleranya. Lokasi memang penting, modal juga dibutuhkan, tapi di balik itu, ada aspek fundamental yang harus diperhatikan, yaitu pemahaman tentang pelanggan, ikatan keberlangsungan, juga hubungan jangka panjang.

Seorang pengusaha bukan menjual untuk hari ini, melainkan untuk seterusnya. Pengusaha bukan membuat sebatas apa yang bisa, namun harus paham betul dimana pasar dan apa kebutuhan sebenarnya.  Yang lebih mendasar lagi sebenarnya hanyalah ide kreatif, kepercayaan, dan daya tahan.

Branding usaha juga penting, namun titik tolaknya bukanlah pemberian nama, desain logo, ataupun positioning, melainkan konsep yang benar, di tempat yang benar dan mendapatkan kepercayaan serta lolos uji. Semuanya hanya akan hidup di tangan manusia yang memiliki ide kreatif, semangat, fokus dan tahan uji. (M Abduh Baraba)

Rekomendasi

Baca Juga