Opini Punahnya Sensasi Cukur Rambut DPR (Dibawah Pohon Rindang)

Punahnya Sensasi Cukur Rambut DPR (Dibawah Pohon Rindang)

sisiusaha (21/7)

creative people.. Bagi seorang lelaki, cukur rambur juga telah menjadi gaya hidup yang tidak dapat dibilang remeh. Berjamurnya salon atau Barbershop khusus lelaki mempertegas bahwa masalah gaya rambut ini memang menjadi perhatian tersendiri. Berbagai pilihan tersedia dari kelas bintang lima sampai kaki lima, tentunya hal ini tergantung dari ketebalan dompet atau mungkin juga tingkat kecentilan Anda.

Namun pernahkan mendengar istilah cukur "DPR" (dibawah pohon rindang), atau bahkan Anda pernah mencukur rambur dibawah pohon rindang? Pada masa sekitar 20 tahun dan seterusnya kebelang, cukur rambut "DPR" merupakan hal yang lazim dan mudah ditemukan di kota-kota, hingga perubahan mengikis sbuah style klasik urusan cukur rambut ini.

Saat ini akan sulit menemukan sensasi cukur rambut "DPR", banyak pengusaha kecil pangkas rambut yang membuka jasanya dengan memilih menyewa tempat untuk operasionalnya. Kalau pun toh masih menemukan gaya pengusaha cukur "DPR" dapat dipastikan mereka tergolong pengusaha cukur rambut yang sudah tua.

Bersaing dengan para pengusaha cukur rambut yang lebih muda, lebih kekinian bahkan lebih sarat modal dan kreasi dalam usahanya, para pencukur rambut "DPR" tetap melanjutkan profesinya, masalah pelanggan juga ternyata selalu ada. Benar janji Tuhan, bahwa masing-masing orang telah ditetapkan rejekinya.

Namun dari sisi pelanggan klasiknya, yang selalu menikmati sensai cukur "DPR" ternyata menjadi kesulitan sendiri, tidak semudah dulu lagi menemukan cukur "DPR" saat ini. Kata mereka, cukur di "DPR" bukan sekedar transaksional ekonomi dalam jasa, namun ada aktifitas sosial yang lekat didalamnya. Selagi menunggu giliran dicukur, sesama pelanggan bisa saling ngobrol mulai dari hal sederhana, kocak, sampai diskusi "serius" politik, mengkritisi kebijakan pemerintah yang dibalut oleh atmosphere alam terbuka dan rindangnya pepohonan sekitar yang menjadi kenikmatan tersendiri. 

Sensasi itulah yang saat ini sulit ditemukan, tergerus oleh perubahan dan kemajuan zaman cukur "DPR" justru menjadi sesuatu yang langka. Seperti diketahui bahwa terbatasnya sebuah produk atau pelayanan justru akan menjadikan ekslusifitas, dan sesuatu yang ekslusif biasanya memiliki nilai yang tinggi. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga