News Warteg Di Pusat Kota Berlin

Warteg Di Pusat Kota Berlin

sisiusaha (21/7)

creative people.. Warung yang paling mudah di temukan, paling khas menunya dan juga terbilang murah dari segi harganya adalah warung tegal (warteg), hampir semua kalangan mengenal atau bahkan pernah menyantap masakan dari warteg. 

Ternyata warteg ini juga ditemukan di Eropa, tepatnya di Turn Str 18, 10559 Berlin. Di jalan raya yang cukup besar, Anda bisa melihat Nusantara Restaurant Halal. Berbagai masakan khas Jawa tersedia di restoran Tegal ini. Menunya cukup lengkap, bukan menu sederhana yang biasa dsajikan di warteg di Tanah Air," ungkap Bram (48) pemilik restoran yang diberi nama "Nusantara Restaurant Halal".

Bram adalah mantan atlit bulutangkis Indonesia tingkat nasional. Saat masih duduk di kelas III SMP di daerah kelahirannya, Tegal, ia terjaring oleh pemandu bakat dari Klub Bulutangkis Djarum Kudus. Agar dekat dengan lokasi latihan, ia pindah ke Kudus. Berkat gemblengan klub, Bram menjadi juara nasional tahun 1988 pada pertandingan yang digelar di Lampung. Usai kejuaraan di Lampung, ia masuk pelatnas awal 1989. Pada tahun yang sama, ia menempati peringkat ketiga Kejuaraan Internasional, Jakarta Open. Bram nyaris menjadi juara turnamen tingkat dunia Indonesia Open pada tahun 1990.

Ia mengaku persaingan para bintang bulutangkis pada masanya cukup ketat. Bram lalu menyebut sejumlah nama besar seangkatannya, antara lain, Alan Budikusuma, Ardi Wiranata, Joko Supriyanto, Hermawan Susanto, dan Eddy Kurniawan. Bram akhirnya banting setir. 

Ia kemudian mencoba mencari peruntungan ke Belanda. Tinggal di rumah omanya, Bram aktif kegiatan bulutangkis dan masuk "top sport" di negeri Kincir Angin itu. Karena prestasinya yang bagus, Bram menjadi utusan Belanda pada Kejuaraan Eropa di Hamburg, Jerman tahun 1992. "Saya juara Eropa waktu itu," ujar Bram. Melihat prestasinya yang bagus, Reiner, pelatih Klub Eintracht Sudring Berlin, Bundes Liga, Berlin, mengajaknya untuk menjadi pelatih bulutangkis. Pada tahun 1993, Bram hijrah ke Berlin untuk menjadi pelatih profesional.

Setelah menikah dengan gadis Brebes, Diyah Nurhadiati, Bram merintis usaha kuliner khas Indonesia. Awalnya pasangan suami-istri ini hanya melayani katering. Namun, melihat peluang yang cukup besar, mereka membuka restoran Indonesia dengan nama "Nusantara Restaurant Halal" di Turn Str 18, 10559, Berlin. Menu utama yang cukup digemari konsumen antara lain, sate ayam, sate kambing, tongseng, nasi rames, gado-gado, sop buntut, rendang, dan rawon. Minuman khas Indonesia seperti jahe dan bandrek juga disediakan.

"Bule juga suka masakan Indonesia," ujar Bram. Mereka mengaku senang makan di restoran milik Bram karena bumbunya cukup terasa, gurih, dan harga relatif murah. Di Jerman, kata Bram, cuma restoran miliknya yang benar-benar menyajikan lengkap menu Indonesia. Yang lain, menu Indonesia hanya sebagian kecil. Restoran Thailand, misalnya, juga menyediakan masakan Indonesia. Tapi hanya sebagian kecil.

Saat ini, Bram mempekerjakan 10 karyawan. Sebagian besar mereka adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di Berlin. "Ada juga orang Libanon yang menjadi pelayan restoran," ujar Bram. Karyawan asal Libanon itu datang ke Berlin bersama orangtua dan saudara-saudara mereka. Karena niatnya yang membara untuk memperbaiki nasib, ia minta pekerjaan pada Bram.

Bram dan istri mengaku betah di Berlin. Kedua anak mereka bisa bersaing di sekolah sambil terus berlatih bulutangkis. Brenda, putri sulung mereka yang kini duduk di universitas, selalu menjuarai turnamen bulutangkis se-Jerman. sumber BeritaSatu.com (RED)

Rekomendasi

Baca Juga