News Potensi Musisi Jalanan  

Potensi Musisi Jalanan  

sisiusaha (28/9)            

Ngga tahu jalur!” demikian keluh Edi, pengamen jalanan yang kerap dipanggil untuk bermain di hotel berbintang di Bandung maupun Jakarta mengenai cara mengembangkan karir di dunia musik. Musisi jalanan kebanyakan hanya fokus untuk bermusik dan mendapatkan uang secukupnya guna hidup hari ke hari.            

Namun, kualitas mereka tidak kalah dengan musisi-musisi yang bergerak di jalur mainstream. Edi mengaku sering perform di Hotel Horizon, Jayakarta, dan Sheraton. Edi (cajon) tergabung dalam band jalanan bernama C Major, bersama Deden (bass & vokal), andres (gitar & vokal), dan Guntur (biola).            

Untuk sekali bermain di suatu acara, C Major mematok harga Rp 600.000 hingga Rp 3.000.000. Bayaran tertinggi mereka dapatkan saat tampil di Hotel JW Marriott, Jakarta.            

C Major biasa membawakan lagu-lagu The Beatles, Queen, serta Bon Jovi. Selain itu, mereka juga sering menampilkan lagu-lagu Top 40 untuk penonton anak muda.            

“Selain itu, kendala kami adalah dana dan lahan. Terkadang, kalau kita latihan di kontrakan suka ditegor warga.” Tutur Edi. Ia mengharapkan adanya lahan bagi para pemusik jalanan untuk berekspresi.            

Ia menambahkan, mereka jarang latihan di studio band yang layak karena terkendala biaya. Oleh karena itu, C Major sering memanfaatkan kedai makanan untuk latihan sekaligus ngamen.

Kedai gado-gado di Jl. Tengku Angkasa dan shelter Cititrans sering mereka jadikan medium untuk latihan sekaligus ngamen. Tiap hari jumat, sabtu, dan minggu, jika tidak ada panggilan perform, mereka menghabiskan malam di sana. Pendapatannya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 100.000, yang kemudian dibagi empat untuk masing-masing personilnya.

Padahal, menurut Raka, musisi yang tergabung dalam band Sizzy, Rumah Musik Harry Roesli bisa menjadi wadah bagi para musisi jalanan yang tidak mengetahui jalur untuk mengangkat karirnya.

Tempat yang berada di Jl. Supratman no. 57, Bandung ini, merupakan tempat untuk berkumpul dan bermain musik bersama anak-anak jalanan. Di rumah ini, anak-anak jalanan direkrut untuk selanjutnya dilihat dan dilatih oleh musisi-musisi senior.

Musik, sebagai salah satu bidang ekonomi kreatif, menyumbangkan banyak pendapatan bagi Indonesia. Namun, masih banyak potensi-potensi yang belum tergali secara maksimal. (WeBe/RK)      

Rekomendasi

Baca Juga