Opini Meneladani Rasulullah SAW Dalam Merayakan Idul Fitri

Meneladani Rasulullah SAW Dalam Merayakan Idul Fitri

sisiusaha (04/7)

creative people.. 1 Syawal merupakan hari yang fitri, setelah sebulan berpuasa sebagai umat yang bertaqwa dan menyambut kemenangan. Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan serta rahmatNya kepada kita umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perayaan Lebaran Idul Fitri, secara turun temurun sudah membudaya disemua kalangan umat muslim. Namun bukan berarti menjadi suatu keharusan untuk dirayakan secara berlebihan. Disini Rasulullah saw telah memberikan beberapa contoh yang perlu diperhatikan.

Yang paling utama, adalah mengeluarkan zakat fitrah atau maal sebelum waktunya sholat Ied. Tujuannya, untuk berbagi kegembiraan dihari fitri ini dengan kaum dhuafa atau fakir miskin agar ikut merasakan kebahagiaan dihari itu. Namun apabila imam sudah mengumandangkan takbir untuk sholat Ied, maka sudak tidak lagi disebut zakat melainkan sedekah.

Lalu bagaimana Rasulullah merayakan Idul Fitri? Janganlah merayakan dengan berlebihan, sangat istimewa bahkan terkesan ada yang dipaksaan hingga diluar kemampuan. Untuk itu Islam menganjurkan hendaknya menyambut dengan niat baik, dengan kondisi seadanya, meski sebaiknya berpakaian yang paling bagus, tapi tidak harus baru, karena semua ini merupakan salah satu bentuk syukur terhadap nikmat Allah.

Ketika menjelang berangkat sholat Ied, dianjurkan makan meski hanya sebutir kurma, karena ada hadist yang mengatakan “Rasulullah saw tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari masjid) lalu beliau makan dari sembelihannya”. (HR Tirmidzi, Ahmad,).

Pada pelaksanaan Sholat Ied sangat dianjurkan agar para wanita dan anak-anak untuk ikut. Seandainya ada wanita yang sedang haid, diusahakan tetap menghadirinya, meskipun hanya dibelakang shaf atau diluar masjid, tujuannya agar semuanya bersama-sama merasakan dan merayakan kegembiraan. Disunnahkan pada waktu ketempat shalat dengan berjalan kaki, “Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki”.(HR Tirmidzi).

Disaat pulang tidak dianjurkan untuk tidak melewati jalan yang dilalui ketika berangkat, karena ada hadist yang mengatakan “Rasulullah saw pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari mushalla)”(HR Bukhari). Ketika dalam perjalanan, sebaiknya selalu mengumandangkan takbir hingga menjelang dimulainya sholat Id, dan yang perlu diperhatikan, Rasulullah saw tidak mengerjakan shalat sesudah Subuh hingga sebelum shalat Ied dimulai, kecuali shalat Taiyatul Masjid.

Pada saat sholat Ied, tidak ada azan maupun iqamah serta mendahulukan shalat sebelum khutbah. “Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar dan Ali, semua melakukan shalat sebelum khutbah” (HR Bukhari, Ahmad, Muslim). Barulah setelah sholat Ied selesai, sampai dirumah dianjurkan untuk melakukan sholat sunnah dua rakaat, karena Rasul mengerjakan shalat sunnah dua raka’at sesampai dirumah.

Kemudian setelah itu menjalin tali silaturrahmi, saling memberi dan mengucapkan salam serta maaf, meskipun bermaaf-maafan tidak harus hari raya dan meninggalkan sesuatu perkara yang melampaui batas. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga