Opini Seberapa Islamikah Kehidupan Kita?

Seberapa Islamikah Kehidupan Kita?

sisiusaha (26/6)

creative people.. Islam sejatinya tidak hanya menjadi identitas diri semata, namun merupakan The Way Of Life. Tidak secara otomatis seorang beragama islam lalu mutlak dapat dikatakan telah menjalankan kaidah-kaidah islami dalam kehidupannya.

Syaikh Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang. Kepada Renan, filsuf Perancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dll. Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia timur tengah mengatakan (kira-kira begini katanya), “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran. Tapi tolong tunjukan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”. Abduh terdiam. 

Satu abad kemudian beberapa periset dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Renan. Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketapatan waktu, empati,  toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah Saw. Bebekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai islamicity index mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa kehidupan islami negara-negara tersebut. Hasilnya? New Zealand dinobatkan sebagai negara paling Islami. Indonesia? Harus puas di urutan ke 140. Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di rangking 100-200.

Seperti apakah kehidupan yang islami itu? Awalnya terbayang kehidupan yang islami adalah kehidupan yang tidak jauh-jauh cirinya dari kehidupan yang surgawi, yaitu kehidupan disebuah negara yang aman, nyaman, yang tanahnya subur, di tengahnya terhampar sungai-sungai yang dialiri susu dan bidadari-bidadari cantik siap menanti para suami yang pulang kerja, sambil mengasuh putra-putri yang lucu-lucu, damai, sejahtera, adil, tidak ada kezaliman, dan tidak ada kemaksiatan.

Tetapi, adakah kehidupan seperti itu di bumi Allah ini? Menurut Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Selama berkarier puluhan tahun sebagai psikologi internasional, Sarlito sudah mengunjungi hampir seluruh dunia, dari Selandia Baru sampai Alaska, dari Amerika sampai Afrika, tetapi tidak satu pun tempat yang saya jumpai, yang matching dengan bayangan saya tentang negeri islami tersebut di atas.

Dua peneliti dari George Washington, yaitu Prof Dr Scheherazade S Rehman dan Prof Dr Hossein Askari (dari namanya ketahuan bahwa mereka muslim), telah melakukan penelitian terhadap negara- negara (yang riil ada di dunia) yang paling islami. Mereka memublikasikan hasil penelitiannya dalam laporan bertajuk ”An Economic Islamicity Index (EI2)” yang dimuat dalam Global Economy Journal Volume 10, Issue 3, 2010, Article 1.

Ternyata tidak sulit untuk merumuskan kehidupan negara yang islami. Caranya adalah mengumpulkan ayat dan hadis yang mendeskripsikan bagaimana hendaknya suatu kehidupan dalam sebuah negara itu sehingga bisa disebut islami. Maka itu, Prof Rehman dan Prof Askari menemukan lima ajaran dasar Islam yang dijadikannya sebagai indikator keislaman sebuah negara, yaitu (1)Ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia, (2) Sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik dan pemerintahan, (3) Hak asasi manusia dan hak politik, (4) Ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat kehidupan sosial, (5) Sistem perundang-undangan untuk nonmuslim.

Bagaimana sebuah kehidupan atau seseorang dapat dikategorikan islami? Kebanyakan ayat dan hadis menjelaskan Islam dengan menunjukkan indikasi-indikasinya, bukan definisi. Misalnya hadis yang yang menjelaskan bahwa “Seorang Muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya” itu indikator. Atau hadis yang berbunyi, “Keutamaan Islam seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat”. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga, hormati tamu,  bicara yang baik atau diam”. Jika kita koleksi sejumlah hadis yang menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kehidupan, kota bahkan negara. 

Dengan indikator-indikator di atas tak heran ketika Muhamamd Abduh melawat ke Perancis akhirnya dia berkomentar, “Saya tidak melihat Muslim di sini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebalikanya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”. 

Lalu siapa yang salah? Mungkin yang salah yang membuat survey. Seandainya kehidupan islami pada sebuah negara itu diukur dari jumlah penduduk muslim, jumlah masjid dan jumlah jama’ah hajinya terbanyak, pastilah Indonesia ada di ranking pertama. (MAB)

 

Rekomendasi

Baca Juga