News Minang Mart, Terobosan Pemprov Sumbar Guna Hidupkan UMKM Lokal

Minang Mart, Terobosan Pemprov Sumbar Guna Hidupkan UMKM Lokal

sisiusaha (29/5)

creative people.. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menunjuk tiga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai pelaksana program ritel lokal Minang Mart, guna membendung masuknya ritel modern berjaringan di daerah itu.

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengumumkan dalam waktu dekat akan meluncurkan 1.000 ritel Minang Mart milik masyarakat di daerah itu. Dia mengatakan ritel Minang Mart dikelola secara modern dengan mengedepankan kenyamanan dan keamanan pembeli. Adapun, pemda setempat menunjuk tiga BUMD, yakni PT Grafika Jaya Sumbar sebagai pengelola, PT BPD Sumbar atau Bank Nagari sebagai penyalur modal, dan PT Jamkrida Sumbar sebagai penjamin.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setprov Sumbar Syafruddin mengatakan Minang Mart dikembangkan dari toko-toko kelontong yang dimiliki masyarakat untuk ditingkatkan fasilitas dan kenyamanannya. “Untuk buka Minang Mart, harus punya toko dulu. Jadi toko kelontong yang ada itu di-upgrade fasilitasnya, manajemen dan teknologinya,” kata Syafruddin.

Dia mengatakan masyarakat pemilik toko yang ingin mendirikan Minang Mart harus mendaftar terlebih dahulu ke PT Grafika sebagai pengelola. Lalu, toko ditingkatkan fasilitasnya melalui pinjaman dari Bank Nagari, dan toko yang sudah ada sekaligus sebagai jaminan.

Sementara itu, untuk pasokan barang, Grafika sebagai pengelola bekerjasama dengan Transmart untuk memasok kebutuhan harian dan membeli sendiri komoditas-komoditas harian kepada petani atau produsen barang. “Jadi nanti di Minang Mart, semua kebutuhan harian ada. Termasuk produk-produk UMKM juga bisa dijual di situ,” katanya.

Dia menargetkan awal semester dua tahun ini, sekitar 1.000 unit ritel Minang Mart bisa diluncurkan di daerah itu. Adapun, Pemprov Sumbar dan pemda 19 kabupaten/kota di daerah itu masih menerapkan kebijakan menutup izin ritel modern berjaringan. (RED)

Tutup celah masuknya swalayan waralaba, Pemprov. Sumbar mengkolaborasikan 3 kekuatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), masing-masing PT Grafika, Bank Nagari dan Jamkrida, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjalankan rencana gerakan 1000 Minang Mart di Sumbar. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart merupakan program untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dengan jalan Pemprov melalui BUMD membeli hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan masyarakat untuk dipasok pada pedagang yang dijual kembali ke konsumen dengan harga wajar.

“Keuntungannya ekonomi kerakyatan hidup. Kita beli dari masyarakat produsen dengan harga wajar, kita jual ke masyarakat dengan harga lebih murah. PT Grafika bertugas mengelola atau membeli barang sekaligus memasok ke pedagang. Bank Nagari ditugaskan memberikan suntikan pinjaman dana bagi pedagang yang membutuhkan perkuatan modal dengan bunga rendah hanya 7 persen, sedangkan Jamkrida berfungsi untuk menjamin pedagang mendapatkan kredit jika tidak memiliki agunan,” ungkapnya usai rapat persiapan peluncuran Minang Mart di Gubernuran, Senin (23/05/2016).

Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart bukan mendirikan bangunan baru, melainkan bekerjasama dengan pedagang yang telah memiliki toko untuk di branding Minang Mart, sekaligus mendapat pasokan dengan harga murah. Terdapat 4 kelompok Minang Mart yang direncanakan, yakni kelas A yakni toko yang memiliki bangunan besar dan buka selama 24 jam. Kemudian, kelas B, dengan kapasitas dibawah kelas A. Sementara untuk kelas C untuk warung,selanjutnya kelas D yakni pedagang gerobak yang diberikan modal dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) senilai Rp 2 Juta.

“Kita bukan membangun, tapi merangkul pedagang untuk ikut bergabung, kita pastikan kita akan memasok barang dengan harga murah dibanding distributor lainnya. Kalau mereka kurang modal, kita sediakan bantuan kredit berbunga rendah. Tapi ini bukan bisnis waralaba, ini semacam konsolidasi. Kalau pedagang itu hanya ambil pasokan dari kita sebagian saja tidak apa-apa,” jelasnya.

Menurut Irwan Prayitno, di tahap awal, 100 Minang Mart akan diluncurkan Selasa 24 Mei 2016. Di tahap awal, Minang Mart dimaksud merupakan toko-toko yang menjadi bagian unit usaha yang sudah ada di setiap koperasi di masing-masing dinas di lingkungan Pemprov Sumbar.

“Kita manfaatkan potensi yang sudah ada di Dinas dulu, baru sosialisasi ke pedagang-pedangang,” bebernya.

Irwan Prayitno menegaskan, untuk menjalankan Minang Mart pada tahap awal, sedikitnya dibutuhkan anggaran Rp 5 Miliar sebagai modal membeli barang dari produsen. Dana dimaksud tidak didapat melalui APBD, melainkan kucuran dari penanam modal asal Sumatera Barat.

“Modal awal kita dari investor lokal, kalau dari luar Sumatera Barat susah untuk mengajaknya karena ini tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat, bukan sekedar mencari untung. Saya yakin kalau ini berjalan mulus, banyak manfaat yang didapat. Ekonomi kerakyatan hidup, inflasi dapat ditekan karena rantai distribusi diperpendek,” pungkasnya.

- See more at: http://www.gosumbar.com/berita/baca/2016/05/24/tutup-celah-masuknya-swalayan-waralaba-1000-minang-mart-dibangun-guna-hidupkan-umkm#sthash.ekkufdPp.dpuf

Tutup celah masuknya swalayan waralaba, Pemprov. Sumbar mengkolaborasikan 3 kekuatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), masing-masing PT Grafika, Bank Nagari dan Jamkrida, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjalankan rencana gerakan 1000 Minang Mart di Sumbar. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart merupakan program untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dengan jalan Pemprov melalui BUMD membeli hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan masyarakat untuk dipasok pada pedagang yang dijual kembali ke konsumen dengan harga wajar.

“Keuntungannya ekonomi kerakyatan hidup. Kita beli dari masyarakat produsen dengan harga wajar, kita jual ke masyarakat dengan harga lebih murah. PT Grafika bertugas mengelola atau membeli barang sekaligus memasok ke pedagang. Bank Nagari ditugaskan memberikan suntikan pinjaman dana bagi pedagang yang membutuhkan perkuatan modal dengan bunga rendah hanya 7 persen, sedangkan Jamkrida berfungsi untuk menjamin pedagang mendapatkan kredit jika tidak memiliki agunan,” ungkapnya usai rapat persiapan peluncuran Minang Mart di Gubernuran, Senin (23/05/2016).

Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart bukan mendirikan bangunan baru, melainkan bekerjasama dengan pedagang yang telah memiliki toko untuk di branding Minang Mart, sekaligus mendapat pasokan dengan harga murah. Terdapat 4 kelompok Minang Mart yang direncanakan, yakni kelas A yakni toko yang memiliki bangunan besar dan buka selama 24 jam. Kemudian, kelas B, dengan kapasitas dibawah kelas A. Sementara untuk kelas C untuk warung,selanjutnya kelas D yakni pedagang gerobak yang diberikan modal dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) senilai Rp 2 Juta.

“Kita bukan membangun, tapi merangkul pedagang untuk ikut bergabung, kita pastikan kita akan memasok barang dengan harga murah dibanding distributor lainnya. Kalau mereka kurang modal, kita sediakan bantuan kredit berbunga rendah. Tapi ini bukan bisnis waralaba, ini semacam konsolidasi. Kalau pedagang itu hanya ambil pasokan dari kita sebagian saja tidak apa-apa,” jelasnya.

Menurut Irwan Prayitno, di tahap awal, 100 Minang Mart akan diluncurkan Selasa 24 Mei 2016. Di tahap awal, Minang Mart dimaksud merupakan toko-toko yang menjadi bagian unit usaha yang sudah ada di setiap koperasi di masing-masing dinas di lingkungan Pemprov Sumbar.

“Kita manfaatkan potensi yang sudah ada di Dinas dulu, baru sosialisasi ke pedagang-pedangang,” bebernya.

Irwan Prayitno menegaskan, untuk menjalankan Minang Mart pada tahap awal, sedikitnya dibutuhkan anggaran Rp 5 Miliar sebagai modal membeli barang dari produsen. Dana dimaksud tidak didapat melalui APBD, melainkan kucuran dari penanam modal asal Sumatera Barat.

“Modal awal kita dari investor lokal, kalau dari luar Sumatera Barat susah untuk mengajaknya karena ini tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat, bukan sekedar mencari untung. Saya yakin kalau ini berjalan mulus, banyak manfaat yang didapat. Ekonomi kerakyatan hidup, inflasi dapat ditekan karena rantai distribusi diperpendek,” pungkasnya.

- See more at: http://www.gosumbar.com/berita/baca/2016/05/24/tutup-celah-masuknya-swalayan-waralaba-1000-minang-mart-dibangun-guna-hidupkan-umkm#sthash.ekkufdPp.dpuf

Tutup celah masuknya swalayan waralaba, Pemprov. Sumbar mengkolaborasikan 3 kekuatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), masing-masing PT Grafika, Bank Nagari dan Jamkrida, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) menjalankan rencana gerakan 1000 Minang Mart di Sumbar. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart merupakan program untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan dengan jalan Pemprov melalui BUMD membeli hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan masyarakat untuk dipasok pada pedagang yang dijual kembali ke konsumen dengan harga wajar.

“Keuntungannya ekonomi kerakyatan hidup. Kita beli dari masyarakat produsen dengan harga wajar, kita jual ke masyarakat dengan harga lebih murah. PT Grafika bertugas mengelola atau membeli barang sekaligus memasok ke pedagang. Bank Nagari ditugaskan memberikan suntikan pinjaman dana bagi pedagang yang membutuhkan perkuatan modal dengan bunga rendah hanya 7 persen, sedangkan Jamkrida berfungsi untuk menjamin pedagang mendapatkan kredit jika tidak memiliki agunan,” ungkapnya usai rapat persiapan peluncuran Minang Mart di Gubernuran, Senin (23/05/2016).

Irwan Prayitno menjelaskan, Minang Mart bukan mendirikan bangunan baru, melainkan bekerjasama dengan pedagang yang telah memiliki toko untuk di branding Minang Mart, sekaligus mendapat pasokan dengan harga murah. Terdapat 4 kelompok Minang Mart yang direncanakan, yakni kelas A yakni toko yang memiliki bangunan besar dan buka selama 24 jam. Kemudian, kelas B, dengan kapasitas dibawah kelas A. Sementara untuk kelas C untuk warung,selanjutnya kelas D yakni pedagang gerobak yang diberikan modal dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) senilai Rp 2 Juta.

“Kita bukan membangun, tapi merangkul pedagang untuk ikut bergabung, kita pastikan kita akan memasok barang dengan harga murah dibanding distributor lainnya. Kalau mereka kurang modal, kita sediakan bantuan kredit berbunga rendah. Tapi ini bukan bisnis waralaba, ini semacam konsolidasi. Kalau pedagang itu hanya ambil pasokan dari kita sebagian saja tidak apa-apa,” jelasnya.

Menurut Irwan Prayitno, di tahap awal, 100 Minang Mart akan diluncurkan Selasa 24 Mei 2016. Di tahap awal, Minang Mart dimaksud merupakan toko-toko yang menjadi bagian unit usaha yang sudah ada di setiap koperasi di masing-masing dinas di lingkungan Pemprov Sumbar.

“Kita manfaatkan potensi yang sudah ada di Dinas dulu, baru sosialisasi ke pedagang-pedangang,” bebernya.

Irwan Prayitno menegaskan, untuk menjalankan Minang Mart pada tahap awal, sedikitnya dibutuhkan anggaran Rp 5 Miliar sebagai modal membeli barang dari produsen. Dana dimaksud tidak didapat melalui APBD, melainkan kucuran dari penanam modal asal Sumatera Barat.

“Modal awal kita dari investor lokal, kalau dari luar Sumatera Barat susah untuk mengajaknya karena ini tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat, bukan sekedar mencari untung. Saya yakin kalau ini berjalan mulus, banyak manfaat yang didapat. Ekonomi kerakyatan hidup, inflasi dapat ditekan karena rantai distribusi diperpendek,” pungkasnya.

- See more at: http://www.gosumbar.com/berita/baca/2016/05/24/tutup-celah-masuknya-swalayan-waralaba-1000-minang-mart-dibangun-guna-hidupkan-umkm#sthash.ekkufdPp.dpuf
Rekomendasi

Baca Juga


jadwal-sholat