News Suwe Ora Jamu

Suwe Ora Jamu

sisiusaha (03/5)

creative people.. Hidup sehat menjadi sebuah trend baru dalam life style masyarakat dewasa ini, begitu banyak cara ditempuh guna mendapat kesehatan. Dari cara perbaiki konsumsi makanan, menggiatkan olah raga, pola istirahat, pengelolaan stress hingga meminimalisir asupan kimiawi yang masuk kedalam tubuh.

Salah satu perawatan tubuh untuk menjaga agar lebih fit dan sehat adalah dengan mengkonsumsi herbal. Kalau dahulu jamu tradisional yang 100% mengandung bahan herbal memiliki kesan kuno, namun justru sekarang naik kelas dan menjadi sejajar dengan atribut suplemen berlabel modern. Padahal label modern itu hanya kemasan semata, kandungan yang ada tetap saja merupakan bahan alami herbal yang sudah turun temurun ada sejak nenek moyang dahulu.

Mengenai khasiat juga tidak diragukan, bahkan secara rutin konsumsi jamu herbal jauh lebih menguntungkan bagi tubuh karena tidak mengandung bahan kimia yang memiliki efek samping yang justru kurang baik.

Saat ini telah banyak kedai atau cafe jamu di beberapa kota besar, salah satunya adalah kedai jamu "Suwe Ora Jamu" milik Uwi Mathovani, di Jalan Petogogan I, Jakarta Selatan. Awalnya Uwi dan istrinya rutin minum jamu di Bukti Mentjos, di daerah Jakarta Pusat. "Tapi kembali dari Salemba ke Jakarta Selatan itu kan perjuangan ya, dan kami mencari kedai jamu di Jakarta Selatan, nggak ketemu," ujarnya.

Karena itu, dia dan istrinya sering membuat sendiri jamu, namun merasa sayang saat hanya dikonsumsi untuk pribadi sehingga mereka ingin berbagi jamu yang dibuat untuk kalangan lebih luas. Dan dari situlah lahir kedai Suwe Ora Jamu pada 2013 lalu. Dalam tiga tahun, mereka sudah membuka tiga cabang kecil lain, dan tengah melakukan ekspansi kedai di Batam, Bandung, Surabaya, dan Bali.

"Kami berangkat dari kebutuhan karena tidak bisa menemukan warung jamu, jadi kami nggak pernah menargetkan dalam berapa tahun harus buka segini cabang," katanya. Suwe Ora Jamu menyajikan makanan khas Indonesia untuk menemani minum jamu. Dan sebagai 'jembatan' bagi mereka yang belum terbiasa minum jamu, kedai ini juga menyediakan ramuan campuran buah atau sayur dengan bahan jamu tradisional seperti minuman sawi dengan kunyit asam atau kunyit campur madu dan kunyit asam campur buah bit.

Sebagian besar dari bisnis kedai jamu, menurut Uwi, adalah tentang memberi pengetahuan pada konsumen serta mengubah cara pandang mereka akan jamu. "Orang selalu membandingkan (jamu) dengan industri farmasi, kalau begitu, konsumsinya ya jelas kalah. Jamu bukan obat. Harusnya tidak bisa dihadapkan langsung, tapi bisa jadi sesuatu yang berbeda. Dan ini bisa menjadi lifestyle," kata Uwi. Ketika nanti sudah menjadi bagian dari gaya hidup, maka tentu akan lebih mudah untuk memasarkan dan menjual jamu pada masyarakat luas.

"Dalam hal apapun, kalau kita paham latar belakang kita apa, kebutuhan kita apa, kita menguasai apa, kita jalani, Insya Allah itu akan berhasil. Dari pada kita coba-coba, 'Wah bubble tea nih lagi ngetren, kita jual bubble tea deh', tapi kita nggak paham produknya apa, nggak paham marketnya apa, iya ini produk bagus, tapi seberapa jauh kita paham produk yang ditawarkan? Kalau ditanya, apa sih strategi bisnisnya, utama buat kami adalah kita tahu produknya apa, kita tahu bagaimana memperlakukannya, kita percaya dengan kualitasnya, itu saja," kata Uwi. (RED)

Rekomendasi

Baca Juga