Opini Tidak Perlu Label Syariah Untuk Menjual Produk Keuangan Syariah

Tidak Perlu Label Syariah Untuk Menjual Produk Keuangan Syariah

sisiusaha (27/4)

creative people.. Pertumbuhan lembaga keuangan syariah dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang signifikan, hal ini dikarenakan kebutuhan pasar industri keuangan syariah di dunia bisnis semakin meningkat, namun ternyata produk keuangan syariah tidak selalu harus dijual oleh lembaga keuangan berlabel syariah.

Industri keuangan konvensional yang nota bene tidak menganut sistem syariah ternyata bisa menjual produk "syariah" yang berbasis bagi hasil, tanpa memasukkan parameter perhitungan bunga dalam implementasinya. 

Dalam sistem perbankan global dikenal berbagai konsep dan skema pembiayaan, dari retail banking, consumer banking, commercial banking, corporate banking, investment banking dll. Dari beberapa skema tersebut investment banking merupakan sebuah sistem yang secara tidak langsung menganut skema bagi hasil, walaupun tidak dibutuhkan label "syariah" dalam operasionalnya.

Pembiayaan pada skema invesment banking adalah penyertaan modal (modal ventura) lembaga keuangan pada suatu usaha atau bisnis dengan output profit atau revenue sharing, konsep ini sesungguhnya merupakan ruh dalam sistem keuangan syariah.

Dalam sistem perbankan syariah dikenal produk musyarakah dan mudharabah, dimana pihak bank memberikan pembiayaan kepada suatu usaha atau project yang nantinya keuntungan didapat dengan bagi hasil dari usaha tersebut, namun prosentase penyaluran skema ini masih sangat kecil dibanding dengan skema murabahah, istishna atau ijarah yang berbasis margin dengan akad jual beli atau sewa beli.

Secara financial risk management konsep berbasis margin memiliki resiko yang kecil, sebaliknya konsep investment banking (profit/revenue sharing) memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi. Namun kenyataannya saat ini justru konsep invesment banking banyak dilakukan oleh lembaga keuangan non syariah dan bahkan banyak dari mereka yang berani menyalurkan pendanaan bagi perusahaan perintis atau startup business. 

Fenomena ini menjadi menarik dicermati bahwa ternyata konsep berbagi hasil syariah telah mampu menjawab tantangan perubahan zaman dan peradaban perekonomian global, lembaga keuangan non syariah tidak perlu lagi menyantumkan label "syariah" dalam menjual produk dengan konsep "syariah" khususnya yang menerapkan skema bagi hasil. Sementara lembaga keuangan yang jelas jelas mencantumkan label "syariah" masih berpikir dan belum memiliki keberanian dalam meningkatkan prosentase penjualan produk berbasis bagi hasil di banding penjualan produk berbasis margin.

Berharap semangat dari lembaga keuangan syariah agar dapat lebih meningkatkan pembiayaan berbasis bagi hasil sehingga branding "syariah" tidak menjadi lemah. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga