News Bahaya Makanan Cepat Saji Bagi Hormon

Bahaya Makanan Cepat Saji Bagi Hormon

sisiusaha (19/4)

creative people.. Terbiasa menyantap makanan cepat saji, namun taukah kalau ada bahaya mengintai di balik hamburger sampai pizza? Hasil sebuah penelitian yang dilansir CNN mengungkapkan adanya kandungan kimia phthalates di makanan cepat saji yang berpotensi merusak hormon.

Para peneliti menemukan adanya keterkaitan antara jumlah makanan cepat saji yang dikonsumsi dengan tingkat phthalates di urin. Makin banyak makanan cepat saji dikonsumsi, maka makin tinggi kandungan phthalates di urin. Data tersebut diperoleh dari hasil penelitian yang dikumpulkan oleh Centers for Disease Control and Preventio dalam periode 2003 dan 2010 sebagai bagian dari survei kesehatan dan nutrisi yang melibatkan 8.877 anak-anak dan dewasa.

Sepertiga partisipan yang diteliti mengaku menyantap makanan cepat saji dalam 24 jam terakhir. Mereka yang mengonsumsi banyak makanan cepat saji dalam kurun tersebut berarti 35 persen kalori mereka berasal dari makanan cepat saji. Mereka terjangkit dua phthalates yang disebut DEHP dan DiNP, masing-masing 23,8 persen and 39 persen lebih tinggi. Kondisi berlawanan bila dibanding partisipan yang tidak mengomsumsi makanan cepat saji sehari sebelumnya.

Jika kalori yang berasal dari makanan cepat saji lebih dari 35 persen, berarti si partisipan memiliki DEHP dan DiNP di urin masing-masing 15,5 persen dan 24,8 persen. Bila dibiarkan, kondisi ini kelak membebani biaya kesehatan. Phthalates mempengaruhi alat reproduksi wanita, dan membahayakan wanita hamil. Karena itu, disarankan tidak mengonsumsi makanan cepat saji, melainkan makanan berlabel “natural” yang disahkan The American College of Obstetricians and Gynecologists. Demikian disampaikan  Ami R. Zota, wakil guru besar bidang kesehatan di George Washington University Milken Institute School of Public Health. Hasil penelitian yang dipimpin oleh Zota dipublikasikan di jurnal Environmental Health Perspectives.

Riset yang berkaitan dengan kimia-kimia ini mengungkapkan sederet fakta mengerikan. Tubuh yang terpapar kimia menanggung risiko meningkatnya fibroids dan endometriosis, menyebabkan kemandulan dan mengurangi kecerdasan.

Kejahatan phthalates terbukti berpengaruh terhadap tubuh termasuk perkembangan otak, sehingga mempengaruhi perilaku buruk. Amerika Serikat dan Eropa telah melarang pemakaian DEHP dan DiNP pada mainan anak-anak.

Tingkat phthalate yang tinggi juga erat kaitannya dengan risiko diabetes pada wanita dan remaja. Masalahnya, phthalates sulit dihindari, mengingat keberadaannya meluas, dari sabun, parfum, cat kuku, obat-obatan, juga kemasan makanan.

Makanan merupakan sumber phthalates terbesar karena material kemasan dan peralatan yang digunakan untuk memproses makanan, seperti rel makanan dan selang, juga mengandung phthalates. Kimia ini meresap ke makanan. “Penelitian ini memperlihatkan makanan cepat saji bisa jadi merupakan sumber utama paparan phthalate,” kata Linda Birnbaum, direktur National Institute of Environmental Health Sciences and the National Toxicology Program.

Birnbaum menambahkan, “Makanan cepat saji lebih sering dipegang dan dikemas dibanding makan yang dibeli di toko grosir.” Makanan mudah terpapar kimia karena sarung tangan plastik yang digunakan penjual makanan pun mengandung phthalates. Cara makanan cepat saji diproses dan dikemas itulah yang membuat phthalates subur. Penelitian baru-baru ini menemukan fakta bahwa menu yang mengandung gandum dan daging sangat berpotensi mendongkrak tingkat phthalate.

Butuh kerja sama segenap pihak dalam hal ini. Di AS, para peneliti bekerja sama dengan National Restaurant Association, juga American Chemical Society dan Environmental Protection Agency demi menekan tingkat phthalates. sumber: CNN (MAB)

 

Rekomendasi

Baca Juga