News Terpilihnya Bandung Jadi Uji Coba Bisnis e-Commerce Facebook

Terpilihnya Bandung Jadi Uji Coba Bisnis e-Commerce Facebook

sisiusaha (1/4)

Siapa yang tak kenal Facebook, situs jejaring sosial terbesar Dunia ini telah memilih Bandung untuk uji coba bisnis e-commerce. Wali kota Bandung, Ridwan Kamil, mengatakan jual beli menggunakan platform Facebook akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari industri kreatif di Bandung. "Jual beli lebih mudah, produk unggulan Bandung dititipkan di platform Facebook," kata Ridwan, dalam forum diskusi di Konferensi Kota Kreatif Indonesia (ICCC) di Malang, Kamis, 31 Maret 2016. 

Bekerja sama dengan Facebook dinilai akan memudahkan industri kreatif memasarkan produk ke seluruh dunia dan mampu menjawab persaingan di era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA). "Saya meyakinkan pada petinggi Facebook jika produk kreatif Bandung bisa bersaing di dunia," ucapnya.

Lebih lanjut dia memaparkan, berkaca pada jumlah kunjungan turis per tahun di Bandung, potensi pertumbuhan ekonomi dari industri kreatif sangat tinggi. Jumlah turis yang berkunjung ke Bandung mencapai 6 juta jiwa per tahun dengan jumlah belanja mencapai total Rp6 triliun. Jika digabungkan dengan platform di Facebook, dia yakin akan semakin mendongkrak pertumbuhan ekonomi. "Kami juga siap mendukung dan menerima produk dari kota lain," lanjutnya.

Ridwan Kamil berharap, jejaring kota kreatif terbangun untuk mempercepat membangun ekonomi kreatif. Termasuk, pameran seni tak hanya di galeri, tapi dilakukan pameran di perkampungan. Dengan begitu turis datang, melihat pameran seni, dan menginap di perkampungan penduduk. Dia juga menyebutkan industri kreatif merupakan investasi jangka panjang dengan nilai investasi yang sangat tinggi. Seperti Facebook memiliki nilai seharga Rp40 triliun. "Melebihi APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara), gagasan dan kreatifitas nilainya tinggi," katanya. 

Diapun mengajak para kepala daerah untuk berinvestasi di sektor ekonomi kreatif dan berharap muncul gagasan dan kreatifitas yang nilainya melebihi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). "Kita memiliki 700 bahasa, itu menunjukkan Indonesia bangsa yang kreatif. Tinggal bagaimana kita membangun kekompakan," katanya.

Sementara itu, Seniman dan Akademisi, Sardono Waluyo Kusumo, mengatakan untuk mempercepat ekonomi kreatif, pemerintah harus mendirikan sekolah kreatif. Seperti di Singapura, dengan mendirikan Singapore School of Art. "Pendidikan dasar kita selama ini menghilangkan kreatifitas dan imajinasi siswa. Perlu keliaran imajinatif," katanya. Kurikulum pendidikan dasar yang mewajibkan siswa hanya terfokus kepada teks dan pelajaran secara tak langsung akan menumpulkan kreativitas dan imajinasi anak-anak. (MAB)

 

Rekomendasi

Baca Juga