Opini Cara Membangun Model Bisnis Era Digital

Cara Membangun Model Bisnis Era Digital

sisiusaha (23/3)

Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal..

Semangat kewirausahaan di Indonesia meningkat pesat beberapa tahun belakangan. Semangat tersebut pun bukan sekedar semangat di awang-awang. Cukup banyak para pemilik semangat tersebut berani mewujudkannya dengan terjun dalam kendaraan bernama bisnis. Sayangnya, bisnis-bisnis tersebut banyak yang seumur jagung dan salah satu penyebab mencolok kegagalan adalah model bisnis yang lemah.

Hal ini dapat dipahami mengingat rendahnya penanaman semangat dan dorongan berwirausaha oleh pemerintah, antara lain pada dekade 70, 80, dan 90. Generasi muda pada masa itu lebih dihadapkan pada dogma zona kenyamanan berupa pegawai tetap yang bentuknya bisa pegawai negeri sipil atau karyawan swasta.

Akibat pemahaman ‘zona kenyamanan’ itu, tidak heran jika saat ini sangat banyak jumlah generasi muda Indonesia yang masih terindoktrinasi pemahaman bahwa dunia wirausaha itu menakutkan dan penuh ketidaknyamanan. Sebenarnya dunia wirausaha memang tidak nyaman, menakutkan, dan penuh risiko, khususnya bagi para individu yang tidak memiliki bekal memadai ilmu dasar wirausaha. Ibaratnya, jangan coba-coba berenang di kolam ukuran olimpiade jika tidak bisa berenang sama sekali.

Agar kita tidak asal terjun atau sekedar mengikuti euforia wirausaha, bertanyalah terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan berikut kepada diri sendiri:

  1. Bagaimana profil pelanggan yang ingin dilayani?
  2. Apa masalah yang dihadapi profil pelanggan tersebut? Apakah produk yang kita tawarkan memecahkan masalah pelanggan yang kita layani?
  3. Adakah nilai tambah yang diberikan produk kita bagi pelanggan?
  4. Kanal apa yang kita perlukan untuk menjalin hubungan dengan pelanggan?
  5. Bagaimana struktur biaya pembentukan harga akhir?
  6. Bagaimana proses transaksi yang nyaman baik di sisi pelanggan maupun di sisi kita dalam berwirausaha?

Deretan pertanyaan di atas adalah pertanyaan mendasar untuk mengetahui seberapa baikkah pemahaman kita sebagai amatir dalam wirausahamengenai model bisnis? Jawaban tajam dari kumpulan pertanyaan tersebut, selain pertanyaan-pertanyaan lainnya, adalah pertanyaan untuk mengetahui tingkat kesehatan model bisnis yang kita jalankan.

Dalam konteks Indonesia. menurut para pelaku bisnis senior di dunia digital, jawabannya adalah banyaktechnopreneur dan pelaku bisnis rintisan memiliki model bisnis yang belum baik.

Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita ketahui terlebih dahulu definisi model bisnis.

Definisi Model Bisnis

Model bisnis adalah pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai ekonomi, sosial, ataupun bentuk-bentuk nilai lainnya.

Karenanya, model bisnis adalah inti suatu bisnis, termasuk maksud dan tujuan yang ingin dicapai, serta segala kelengkapannya seperti produk yang ditawarkan, strategi, kebijakan-kebijakan, struktur organisasi, dan masih banyak lagi.

Jadi, merencanakan model bisnis yang baik ibarat membangun pondasi rumah yang kuat.

Kenapa tema model bisnis diangkat dalam artikel ini? Karena model bisnis menjadi salah satu topik pembicaraan seru saat kita akan memulai bisnis. Merencanakan model bisnis menentukan keberlangsungan bisnis kita. Jangan sampai kita tidak berhasil dalam merumuskan model bisnis yang akan kita jalani. Ingat, gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal.

Sebagai contoh, dalam sebuah obrolan informal, salah seorang pendiri perusahaan B2B Online Marketplace ternama di Indonesia menyatakan bahwa sedari awal, bisnis yang didirikan olehnya menyasar segmen pelanggan yang spesifik sekaligus massal. Spesifik berarti segmen perusahaan kecil menengah yang membutuhkan produk-produk industri untuk keperluan MRO (Maintenance, Repair, Operational) dan para penjual atau distributor produk-produk industri MRO. Pemahaman segmen konsumen tersebut didukung dengan pengetahuan masalah, produk yang mampu menjadi solusi masalah tersebut, karakteristik pelanggan, bentuk transaksi yang tepat, hingga pengalaman mengelola bisnis serupa hampir satu dekade. Kumpulan pengetahuan tersebut memberikan fondasi bagi dirinya untuk membuat model bisnis B2B Online Marketplaceyang kokoh.

Pelaku usaha lainnya, seorang pendiri perusahaan C2C Online Marketplace dengan nama besar, menceritakan bahwa sedari awal dirinya sangat memikirkan segmen pelanggan yang ingin dilayani, masalah-masalah yang mereka hadapi, produk yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut, bentuk komunikasi pelanggan, struktur biaya, dan tentunya proses transaksi yang sedapat mungkin dibuat sangat singkat sekaligus mudah.

Pernyataan kedua pelaku bisnis rintisan ternama tersebut menceritakan hal sama, yaitu penciptaan model bisnis mumpuni dan menghindari model bisnis yang lemah.

Solusi Menghindari Model Bisnis yang Lemah

Berdasarkan pengalaman lapangan para technopreneur senior dan berbagai studi yang menelisik rumus bisnis yang berkelanjutan, terdapat beberapa solusi untuk menghindari model bisnis yang lemah dan menciptakan model yang baik, antara lain:

Solusi yang kita tawarkan harus memecahkan masalah calon pelanggan kita

Orang makan karena lapar, minum karena haus. Jika kita menawarkan makanan kepada orang yang kenyang, kemungkinan besar dia akan menolaknya.

Jadi, usahakanlah agar produk atau jasa yang kita tawarkan mengatasi masalah yang sedang dialami oleh calon pelanggan kita, bukan belum dialami atau sudah dialami.

Bisnis kita harus memiliki diferensiasi yang kuat

Saat produk kita menjadi produk yang benar-benar baru di pasar, tentunya kita belum memiliki pesaing. Namun bagaimana jika kita bukan pemain pertama di suatu pasar? Diferensiasi adalah jawabannya.

Contoh, jika kita menawarkan tempe goreng kepada seseorang yang sudah membeli tempe goreng sebelumnya, bisa jadi dia akan menolak tawaran Anda. Namun, jika kita menawarkan tempe mendoan, meskipun sama-sama digoreng, ada unsur pembeda yang dapat membuat orang tertarik.

Bahkan, jika produk yang kita tawarkan memiliki unsur pembeda yang sangat kuat dan lebih memberi solusi atas masalah calon pelanggan kita, bisa jadi produk kita akan segera menjadi top of mind di benaknya.

Sumber daya yang selaras dengan tujuan perusahaan

Jika kita seorang diri, mustahil bagi kita untuk mengendarai dua mobil sekaligus. Sama halnya dalam berbisnis, sumber daya yang kita miliki harus selaras dengan tujuan perusahaan baik di masa kini maupun di masa mendatang. Karenanya, saat kita membangun dan mengembangkan sebuah bisnis, rencanakan dan sesuaikan sebaik mungkin sumber daya yang kita miliki agar bisnis kita berkelanjutan. Sumber Kontan/Andika Priyandana (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga