Opini Dampak Ekonomi Saat Mudik

Dampak Ekonomi Saat Mudik

Sisiusaha (26/6)

Yes, kita mudik. Saat Lebaran di Indonesia terdapat sebuah femonema, yang kita kenal dengan mudik. Mudik merupakan kegiatan eksodus tahunan terbesar di dunia. Untuk Hari Raya Idul Fitri tahun ini yang diperkirakan akan jatuh tanggal 17 juli mendatang, diperkirakan lebih dari 30 juta orang akan mudik meninggalkan kota untuk menghabiskan libur hari raya di kampung halamannya masing-masing.

Artinya, arus uang juga akan ikut “mengalir” ke daerah-daerah tujuan para pemudik tersebut. Sebuah hal yang menarik dari fenomena mudik ini bukan hanya sebagai sebuah bentuk perayaan tahunan atau tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Mudik sendiri menyimpan sebuah dampak ekonomi yang luar biasa besarnya.

Data dari Bank Indonesia dan Kementerian Transportasi memperkirakan, biaya atau jumlah dana yang dikeluarkan selama masa mudik diperkirakan mencapai lebih dari 310 triliun rupiah atau sekitar 30 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sebesar 10 triliun akan dihabiskan untuk biaya bahan bakar kendaraan bermotor. Nilai tersebut terbilang sangat fantastis dikarenakan fenomena tersebut hanya terjadi sekitar tujuh hingga 15 hari.

Permasalahannya, dana itu untuk apa? Setidaknya ada empat alasan mendasar untuk menjustifikasi bahwa dana yang mengalir ke kampung pada saat mudik lebih banyak untuk kepentingan konsumtif.

Pertama, budaya konsumtif telah menjangkiti hampir seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya di kota tetapi juga di kampung-kampung seluruh indonesia. Media merupakan penyebar utama budaya konsumerisme, khususnya media televisi melalui iklan yang ditayangkan.

Kedua, mudik lebaran merupakan medium tahunan yang dimanfaatkan pemudik untuk menyebarkan sifat kedermawanan dengan mengeluarjan zakat, sedekah dan lainnya kepada keluarga terdekat (extended family) dan keluarga besar di kampung (nuclear family). Pemberian uang ini biasanya tidak terlalu besar, maka dapat diasumsikan, uang tersebut hanya digunakan untuk keperluan konsumtif.

Ketiga, masyarakat di kampung halaman yang didatangi pemudik dari berbagai kota pada saat lebaran, sejenak ikut bersenang-senang melupakan kesulitan yang dialami setiap hari.

Keempat, belum tumbuh kesadaran bersama bahwa awal adanya mudik karena puasa di bulan ramadhan, yang seharusnya harus mampu memberi inspirasi untuk memajukan orang-orang miskin di daerah kampung halaman dengan memotong rantai kemiskinan melalui kegiatan nyata, tidak hanya ritual tahunan membagi bagi uang semata.

Sungguh disayangkan apabila semua arus dana mudik hanya digunakan untuk hal yang bersifat konsumtif, akan jauh lebih bermanfaat apabila sebagian dari itu di pakai untuk sebuah aktifitas ekonomi produktif melalui pemberdayaan ekonomi mayarakat, khususnya kaum dhuafa yang bisa menjadi penggerak roda perokomian di waktu berikutnya. Sesuai dengan tujuan berpuasa ramadhan agar bertaqwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).

Serta melihat salah satu ciri orang yang bertakwa

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali Imran: 134). (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga