News Singaparna Kota Tanpa Cina

Singaparna Kota Tanpa Cina

sisiusaha (10/02)

Singaparna adalah sebuah kecamatan jaya di Tatar Pasundan, merupakan ibu kota kabupaten Daerah Tingkat II Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam sejarah perkembangannya kecamatan Singaparna pernah menjadi Ibu Kota (Pusat Pemerintahan) Kewedanaan, yang meliputi Kecamatan Singaparna, Leuwisari, Kecamatan Cigalontang dan Kecamatan Sukaraja sampai dengan Lembaga Kewedanaan dihapus yaitu pada tahun 2001an, dan pada tahun 2001an Kecamatan Singaparna dipecah menjadi 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Singaparna. Sukarame dan kecamatan Mangunreja.

Luas wilayah Kecamatan Singaparna = 2.178,837 Ha, dengan jumlah penduduk sekitar 70.000 jiwa. Singaparna sangat terkenal dengan banyaknya pesantren, pusat pendidikan yang berbasis santri ini menjadi ciri khas Singaparna. Mata pencarian penduduk Singaparna adalah petani, peternak, pengrajin dan pedagang.

Sepintas Singaparna terlihat tidak berbeda dengan kota kota kecil di Indonesia lainnya, namun ada hal yang begitu nyata terlihat, yaitu tidak adanya perusahaan yang kepemilikannya atau investasi dari keturunan Cina atau Tionghoa, hal ini dikarenakan masyarakat dan tokoh Singaparna menolak masuknya investasi yang berumber dari investor yang diyakininya berketurunan Cina atau Tionghoa, masyarakat Singaparna sangat menjaga akan hal ini, tidak diketemukan Bank BCA, Lippo, Danamon dll yang kata mayarakat Singaparna adalah milik Cina. Begitu Juga dengan pusat perbelanjaan, Hotel, Rumah Sakit, Klinik Kesehatan, Pusat Pendidikan bahkan sampai Toko Kelontong tidak terlihat kepemilikan dari keturunan Cina, Hanya ada waralaba Indomart, Alfamart dan Yomart yang sejenis minimarket waralaba dan kepemilikannya adalah pribumi. Sepanjang pengamatan juga tidak ditemui warga keturunan Cina/Tionghoa bermukim di wilayah ini, walaupun demikian dimungkinkan sebagian ada usaha di Singaparna yang dimiliki oleh keturunan Cina namun tidak secara terang benderang atau hanya sebatas pemain di balik layar, itu pun kalau ada juga sangat sedikit. 

Singaparna berjalan, rakyatnya hidup dengan normal, bahkan terkesan damai serta religius. Pertumbuhan ekonomi Singaparna memang tidak terbilang tinggi, namun masyarakat Singaparna terkesan sejahtera dan bersahaja. 

Ditengah arus investasi dunia global saat ini, Singaparna mampu membuktikan keteguhan diri tidak tersentuh oleh investor Cina. Sungguh sangat ironis dengan kondisi Negara Republik Indonesia yang dengan sengaja menawarkan masuknya investasi dari Cina dengan berbagai  cara yang belum tentu juga memberikan keuntungan secara nyata bagi rakyatnya.

Mampukah Singaparna bertahan dan bahkan berkembang dengan model seperti ini, atau bahkan mampu sebagai contoh kemandirian pribuminya pada  sebuah kota? Wallahu a'lam bhisawab. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga