News Cangwit, Pasar Kreatif di Solo Terus Berbenah

Cangwit, Pasar Kreatif di Solo Terus Berbenah

sisiusaha (8/12)

Creativity is the greatest rebellion in existence” sebuah kalimat fenomenal milik guru spiritual provokatif, Osho terpampang di salah satu dinding lantai II Pasar Pucangsawit Solo. Gusta, 22, dan Apri, 22, merupakan dua aktor yang menorehkan mural tulisan di tembok tersebut.

Kedua alumnus SMAN 3 Solo ini ingin menyumbangkan kreativitasnya untuk menyolek lantai II pasar yang telah dibuka untuk umum sebagai ruang publik alternatif bernama Cangwit Creative Space. “Saya ingin ikut menyumbangkan karya di sini,” kata Apri.

Cangwit Creative Space digagas lima anak muda di antaranya Miftah Farid Widagdo, Rahadian Seno, Vevry Hari Saputro, Sunurwa Prabanagara, dan Rosyid Nukha. Mereka berniat memanfaatkan lantai dua pasar tradisional yang biasanya dianggurkan pedagang. “Kami melihat kondisi pasar setelah direvitalisasi justru kurang optimal. Saat itu kami berpikir ruang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik untuk berkarya dan menyalurkan bisnis kreatif,” jelas Miftah, saat ditemui di Pasar Pucangsawit.

Selepas mengantongi izin dari Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Solo dan Lurah pasar setempat, Miftah bersama penggagas lain mulai menjaring penyewa kios untuk menghidupkan pasar. Hingga saat ini, sudah lebih dari 20 pedagang kreatif yang menjual roti bakar, kopi, barang fesyen, pernik hiasan rumah, kaset, hingga bingkai kacamata berbahan kayu.

“Konsep kami menggelar macam-macam dagangan kreatif yang bisa menarik anak muda ke sini. Mereka pastinya akan menggandeng komunitasnya ke sini juga. Kami juga menyiapkan program acara bulanan dan mingguan untuk memeriahkan pasar dengan menggandeng komunitas film, desain, musik, foto, dll,” terang dia. Dengan memberdayakan anak muda di pasar tradisional, Miftah bersama kelompoknya ingin lebih membangun iklim kreatif di Kota Bengawan.

“Sejak awal kami tanamkan ke teman-teman yang gabung ke sini tidak boleh merasa ini tempatmu atau tempatku. Ini tempat kita semua. Dengan begitu tumbuh rasa memiliki untuk memajukan tempat ini. Harapan kami iklim kreatif bisa tumbuh dari sini,” ujarnya. Jika Cangwit Creative Space tengah dipersiapkan, pasar kreatif Night Market Ngarsopuro juga tengah berbenah. Sejak Oktober lalu, pasar tiban yang dibuka setiap akhir pekan sejak 2009 lalu itu mulai ditata kembali.

Pedagang yang menjajakan barang kriya ditempatkan di bagian depan. Sedangkan barang pabrikan diberikan tempat di barisan belakang. “Penataan seperti ini sudah cukup baik. Tapi kalau bisa, pasar dikembalikan seperti konsep awal. Night Market khusus menjual barang craft. Biar pasar ini ada bedanya dengan pasar malam,” kata Rahmat Hidayat, pengelola Dekaro Craft, yang menempati tenda sebelah utara.

Wakil Ketua Paguyuban Night Market Ngarsopuro, Suryo Harjono, mengatakan pihaknya sedang berupaya mengembalikan citra pasar sebagai pusat oleh-oleh kerajinan khas Solo. “Penataan kami lakukan bertahap. Sebelumnya ada pedagang Hot Wheel dan casing handphoneikut jualan di sini. Perlahan kami arahkan mereka untuk berjualan barang kerajinan,” jelasnya secara terpisah.

Suryo mengakui tak gampang mengarahkan pedagang yang masuk Night Market Ngarsopuro untuk berjualan barang kerajinan dan kuliner saja. “Sejak awal buka juga sudah ada yang jual barang garmen dan tekstil. Tapi kami mencoba meminimalisasi saat ini. Pedagang yang masuk diseleksi betul. Tidak asal semuanya diterima,” tutup dia.

Sesuai amanat cetak biru pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2025 yang dikembangkan Pemkot Solo, pasar kreatif yang ada di Kota Bengawan bakal masuk prioritas kedua yang dikembangkan pemerintah. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga