News Frekuensi Letusan Merapi Sulit Diduga

Frekuensi Letusan Merapi Sulit Diduga

sisiusaha (6/12)

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan (BPPTKG) Yogyakarta Subandriyo mengatakan, letusan Merapi sulit diduga. Alasannya tak hanya karena kondisi vulkanik Merapi saja. Tapi, karena keterbatasan teknologi pendeteksi Merapi. 

Jika dibandingkan dengan Jepang, mereka mampu menempatkan tiltmeter, alat pengukur deformasi kubah gunung, di pusat aktivitas magma. Mereka mampu membangun tunnel untuk menempatkan tiltmeter di pusat aktivitas magma. Sehingga, gejala-gejala magmatis bisa ditangkap lebih rinci. "Tapi butuh puluhan miliar untuk itu, kami belum mampu," kata Subandriyo. 

Sedangkan di Merapi, BPPTKG kesulitan untuk menempatkan alat pendeteksi di pusat gunung. Alat hanya dipasang di permukaan gunung. "Di situ banyak noise, jadi hasil deteksinya tidak serinci di Jepang. Karenanya, letusan Merapi sulit diprediksi," ujarnya. Saat ini, kondisi Merapi masih normal. Tidak ada aktivitas vulkanik apapun. Subandriyo juga menyebutkan belum ada indikasi ke arah erupsi magmatis besar. 

Belajar dari erupsi 1872, yang karakteristiknya hampir sama dengan erupsi 2010, dibutuhkan waktu sekitar 16 tahun menuju erupsi besar berikutnya. "Tapi itu bukan jaminan juga kalau erupsi berikutnya 16 tahun lagi," tandasnya. Selama masa selang itulah, biasanya terjadi letusan-letusan minor yang tidak menimbulkan magma baru. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga